Senin, 06 November 2017

Merah Muda

Desau angin menyemilir malam sebuah kisah
Engkau tampak disana duduk bersilat bersama senyum yang tak lagi asing
Rebah ketakutan pada bahumu yang kekar 
Umpama merah muda pada warna yang terartikan demikian

Pelengkap takdir bernama pasangan, yang ditunggu setiap insan
Alangkah ku beruntung membersamainya dalam sebuah perjalanan sisa hidupnya
Untukmu yang terlukis waktu, tetaplah pada keyakinan hati
Jemari-jemari yang menghitung sebuah pertanggalan menyiratkan bahwa tak lama lagi kan terpatri
Abadikan diri dalam janji yang bernama pernikahan seperti Rama Shinta dikisah pedongengan
Nan tersirat tanpa tersurat lebih daripada katanya.

Minggu, 05 November 2017

Sahabat adalah Tim Sukses (#The End)


Seminggu kemudian, setelah beberapa permasalahan selesai, tentang masalah Uli yang mulai ada titik terang. Kini giliran Rahma yang dibuat dilema.

-                              - Sadisnya kau bagai tak punya hati …
Kau tusuk-tusuk aku dibelakangku
Harus selalu kau ingat,
Aku tak pernah sesakit ini,
Kan ku ingat kau selalu sampai mati …. – (Tata Janeeta-Korbanmu)

Rahma bernyanyi, seakan memang hanya lagu itu yang dia hafal. “Bodohnya gua, gak pernah tahu gimana lu” ungkap benaknya yang selalu mengutuk diri.
“Itu  bae laguna nu diputer Ma, teu aya nu lain?” Tanya Aim. –itu saja lagunya yang diputer, nggak ada yang lain?-
Hehehe. Tertawa kecil. “Biarin lah”
“Biasa tuh, lagi galau kena korban selingkuhan lagi,” Teriak Inda dari dapur “eh keceplosan” lanjutnya pura-pura keceplosan.
“Indaaaaaaa ….” Teriak Rahma agak kesel. Sementara Inda tertawa kecil.
“Lagi lu diseligkuhin aja pake hoby” tangkas Khoti
“Kaya gue dong … anti mainstream,” jawab Aim
“Iyalah, lu mainnya berondong” jawab Rahma sinis
“Rahma pacarnya berondong?” Tanya Uliya
Hera menjawab dengan nada datar “Mana suka dia ama berondong”
“Itu tadi bilang katanya pacarnya berondong”
“Orang bilanga apa, jawab apa” Jawab Khoti sambil menyeka kepalanya
Inda keluar dari arah dapur “Emang apaan dah?” tanyanya polos
Mata Rahma melirik sinis “Ditambah lagi sama si Inda, au amat daah” lalu melanjutkan nyanyinya
“Menurut Quotes yang pernah gue baca” Hera berbicara yang kemudian disela Aim “Mulai lagi”
“Berdasarkan hasil penelitian bahwa orang kalo lagi sakit hati, hatinya lebih mudah sensitif. Jadi sabar ya Uliya, Inda. Rahma lagi sensi”
“Teori mulu, bikin perut aing laper” Jawab Khoti yang kali ini pakai bahasa Sunda. –Aing: saya-

***

Namun seiring berjalannya waktu, persahabatan tidak pernah terpisahkan hanya karna perbedaan. Karakter yang dimiliki masing-masing orang dalam satu regu merupakan kesempurnaan yang tak terpisahkan, sebab dengan demikian adalah pelangi ditengah terik matahari.

Meskipun demikian, mereka tetap saling mengisi kekurangan dan memaklumi pendirian. Memahami karakter dari berbagai karakter, menjadikan mereka lebih dewasa dan unik. Menjadikan sebuah cerita, yang tak bisa dijelaskan hanya dengan kata KITA. Saling mendukung, meski kadang nasihat-nasihatnya terdengar terlalu kejam.

Kini ke-enamnya pandai memposisikan diri, mendukung semua pilihan tanpa terkecuali. Bahkan tanpa sadar, mereka dewasa dalam pandangan satu sama lainnya. Ceplas-ceplos Khoti mengajari bahwa menata kata itu perlu, sementara Uliya mengajari bahwa kesabaran terletak pada pemahaman dari sudut pandang yang berbeda , begitu juga Hera. Dia mengajari bahwa tiap permasalahan tak melulu tentang teori sebab kadang praktiknya justru bertentangan. Sementara tiga yang lain, mengajarkan bahwa hati dan komunikasi tak selalu sejalan dan dengan segala kemaklumannya.

Iya, sesuai namanya TIM SUKSES. Mereka juga sukses menjadikan diri mereka lebih baik dari sebelumnya. Sukses menjadikan diri mereka temui kekurangannya. Sebuah persahabatan yang selalu disemogakan tanpa pernah mengenal waktu, sebab bagi mereka waktu adalah hak mutlak milikNya sementara mereka hanya ingin meikmati tanpa menerka dan mendikte takdir.



Selesai.

Sabtu, 04 November 2017

Sahabat adalah Tim Sukses (Part #3)

Hasil gambar untuk selalu ada

Lima belas menit kemudian.

Khoti dan Rahma datang bersamaan ke Basecame, tanpa basa basi mereka langsung menanyakan perihal apa, mereka semua harus hadir.
“Ada apaan ya, ngapain nyuruh kumpul-kumpul?” Tanya Khoti dengan logat Jawanya yang tak tertinggal.
“Iya, ada apaan?” Lanjut Rahma.
Uli mulai berterus terang “Masa, gue dibohongi pacar gue. Gue dibilang pengeretan lah, terus banyak maunya lah, dia ada utang ama temen gue bawa-bawa nama gue. Katanya uangnya buat gue.”
“Kok bisa gitu?” Tanya Rahma penasaran.
“Loh emang rika njaluk opo?” Lanjut Khoti menjawabnya dengan bahasa jawa. –loh memang kamu minta apa?-
“Kagak sih”
“Cowok gak mungkin asal ngomong kalo gak ada sebab” jelas Khoti.
Tiba-tiba Aim datang, dan disusul Inda “ada apaan nih, udah rame aja?” Tanyanya.
“Kemane aja lu, baru kesini?” Tanya Rahma “Ngurusin Brondong?” Lanjutnya.
“Ish, henteu lah” jawab Aim agak kesal dengan bahasa sundanya yang kasar, -Henteu, tidak-
“Ini  gue, baru pulang kan?” Jawab Inda.
“Udah diem, lanjut Li” tangkas Khoti.

Uli pun mulai menceritakan semuanya, sesaknya, kecewanya hingga ia sendiri yang menangkas bahwa pacarnya tidak mungkin sejahat itu.
“Ih pacar gue mah gak gitu, gue kan udah pacaran lima tahun. Masa iya sih dia boongin gue?” Jawabnya
“Kalo beneran sayang sama lu, ngapain dia bohong gitu sama lu. Bawa-bawa nama lu buat dapet pinjaman duit, bilang lu pengeretan lah, itulah, itu apa? Itu namanya sayang?” Jawab Rahma tak kalah kesal
“Tau! Udah sih putusin aja” jawab Inda dan Aim kompak
“Tapi, Uli masih ngerasa kalo dia tuh gak bohong. Dia jujur kok ama Uli, Uli udah kenal dia lebih dari lima tahun masa dia boong sih, buat apa coba?”
“Terus aja lu bela-belain, gak usah cerita kalo lu ujung-ujungnya gamau dengerin omongan kita-kita” jawab Khoti, yang kali ini tak terdengar logat jawanya.
“Tumben lu ngomong , gak kedengaran jawanya” timpal Inda.
“Kalo boong, gak mungkin dia udah nyicil beli perlengkapan yang lain buat nikah” Uli tetap dengan keyakinannya bahwa pacarnya tidak bersalah. “Terus aku harus gimana dong?”
“Panjat tiang listrik Li” Jawab Khoti yang sedari tadi masih saja kesal
“Ih gue serius”
“Ih maneh mah, meni hese di omongan nya” Jawab Aim dengan keluar bahasa sundanya.–Ih kamu mah susah sekali dibilangin ya-

Suasana hening seketika, Rahma dan Aim asyik dengan ponselnya. Sementara Inda dan Khoti memilih makan meninggalkan Uli yang kekeh sama pendapatnya.
“Ih Ma, coba-coba liat yang tadi foto siapa,” dengan cekatannya mengambil ponsel Rahma “Ih cakep, saha ieu namana, kenalin atuh” lanjut Aim. –siapa ini namanya, kenalin dong-
“Lu tau aja kalo berondong” Goda Rahma
“Seriusan berondong, buat gue sini” jawabnya tak kalah menggoda

Kemudian Hera datang, yang tanpa basa-basi langsung ikut nimbrung. “Udah pada kumpul semua toh,” sambil menaruh tas di meja “Ada apa - ada apa?” Tanya Hera tak kalah penasaran sembari membenarkan kacamatanya.

Setelah satu persatu menceritakan detailnya permasalahan yang dihadapi Uli, Hera mulai mengingat pepatah yang pernah ia baca disebuah buku “Oke, menurut  buku yang pernah gue baca, permasalahan kaya lu itu yang salah cuma dikomunikasi,” diam sejenak memerhatikan teman-temannya “coba bicarain baik-baik dulu deh, terus tanya sama doi. Ajak ketemu kali ya” lanjutnya. Terdiam. “Eh, tapi lu bagus sih nilai dia masih positif thinking gitu” yang kemudian ia lanjut menangkasnya “Tapi ... orang yang kaya gitu mah gak usah dikasih hati” lanjutnya
“Ribet, gue denger lu ngomong. Bilang ini terus lu tangkas, bilang itu lu tangkas lagi” jawab Khoti yang semakin terbawa suasana kesal
Hehehe. Dia tertawa kecil. “Eh, gua inget kata-kata kemarin dibuku yang gue baca,” seolah kata-kata itu adalah slogannya yang tak pernah lupa ia sebut “setidaknya kamu harus berani meninggalkan tempat, dimana kamu pernah berjuang tapi tak dihargai”
“Lu ngomong apaan Her, gua gak ngerti” jawab Inda.
“Lu ama Uli sama. Sama-sama loading” jawab Hera “Yang lain aja paham kok” lanjutnya dan menengok ke arah teman-temannya.
Aim mengangkat bahu, tanda tak peduli. “Au amat Her ….” Jawab Rahma
“Ribet!” tangkas Khoti.


bersambung ....

Jumat, 03 November 2017

Sahabat adalah Tim Sukses (Part #2)

Gambar terkait
sumber gambar: gaptekupdate.info

Waktu itu, langit begitu indah menampakan dirinya begitu sejuk. Mentari  tak lagi bersembunyi dibalik awan. Suasana kota terasa begitu ramai mendekati siang, sementara enam orang sahabat itu juga tengah asyik dengan pekerjaan dan hobinya.

Inda yang seorang guru SD pergi ke Sekolah lebih awal dari biasanya, Uliya pergi ke lapangan untuk berlatih Voli persiapan turnamen pekan depan, begitu juga Hera pergi ke tempat kerjanya menjadi seorang customer service yang membuatnya sering bertemu banyak orang dengan berbagai karakter. Sementara tiga orang lainnya memilih menghabiskan waktu di Rumah, Aim yang nganggur memilih untuk bermain social medial facebook, menstalking mantan-mantannya. Rahma kembali ke rumah, menjadi seorang tante dengan tiga keponakannya, dan tak tertinggal Khoti yang kembali ke Rumah mertuanya menjadi seorang menantu sekaligus seorang istri, maka wajar jika ia menjadi orang yang dengan ceplas-ceplosnya.

Pukul 10.45 WIB.
“Gue ada di Basecame, semua harus kesini. Ditunggu!” Uliya menulis pesannya di ponsel dan segera megirimkan ke teman genknya di grup WhatssApp yang mereka buat. Terkirim.
Beberapa menit kemudian.
“Oke, gue kesana setelah ponakan gue tidur” Balas Rahma “Kan masih jam segini, bukannya dia ada latihan voli yah” Tanyanya dalam benak.

Treng. Treng. Suara handphone Aim berbunyi. “Siapa yah, ganggu orang mau tidur siang aja” Gumamnya dalam hati kemudian segera mengecek Hp dan membacanya “Ngapain sih?” Tanyanya dalam hati “Ah biarin aja ah, gua mau tidur. Maaf ya Uli” Jawabnya sendiri dan memilih menghiraukan pesannya.

Sementara Inda dan Hera masih sibuk dengan pekerjaanya sehigga belum sempat untuk membuka handphonenya dan Khoti, lupa mencharge ponselnya karena disibukkan dengan pekerjaan rumahnya yang tak kunjung selesai-selesai.
“Iki piye sih jayn, dari tadi yo kaga selese-selese. Ripuh jayn” Gumamnya kesal. “Loh hape ku lobet, lali ngecas meneh. Huft!” Mengatur nafasnya.

Setelah menunggu lama hampir dzuhur seorang diri di basecame mereka, Uli terlihat seperti benar-benar kesal. Kesal karena sahabat-sahabatnya belum satu pun yang sampai, sementara dirinya benar-benar sedang dongkol hati dan butuh cerita-cerita.
“Kok pada lama dah, kesel dah inih” Lanjutnya menuliskan pesan.

Treng. Treng. Treng. Suara bunyi ponsel Hera, terdengar lebih panjang mungkin lantaran ponselnya baru saja di hidupkan. Ia menengok jam tangannya menunjukan angka satu lebih lima belas menit, sementara dirinya baru saja istirahat. “Loh Uli dari jam sebelas ada di Basecame, ngapain yah. Bukannya ada latihan sampai jam tiga sore” Dalam benaknya bertanya. “Ada apa Uli, gua masih di kerjaan, nanti kalo sudah pulang gua mampir ke Basecame” Jawabnya singkat.
Sedangkan Inda dan Khoti memilih hanya membaca pesannya, dan segera menemui Uli di Basecame.

bersambung ...

Sahabat adalah Tim Sukses

Hasil gambar untuk sahabat


sumber gambar: hipwee.com


Mereka adalah orang-orang pilihan dari miliaran orang yang dijodohkan untuk bertemu dalam mimpi yang sama. Dipertemukan saat mereka telah saling mengikrarkan tegad pada mimpinya, iya mereka adalah Tim Sukses sebutnya. Ada Khoti si Jawa yang ceplas ceplos, Hera si kutu buku yang ribet, Inda si tukang susah move on, Aim cewek sunda tomboy yang demenin cowok brondong, Uliya si atlit tukang pacaran, keras kepala juga agak susah nyambung dan terakhir ada Rahma cewek Betawi yang gendut yang selalu jadi korban selingkuhan.

Suatu hari disebuah Kampus A, saat perkenalan mahasiswa baru bertemulah si Khoti dengan Hera didepan sebuah Masjid kampus hingga berlanjut menjadi dua sejoli. Disisi lain, ada juga Inda yang tetanggaan dengan Aim yang mengharuskan mereka setiap waktu bertemu, yang tak hanya bertatap muka di Kampus juga di tempat tinggalnya. Begitu juga Uliya dan Rahma yang ternyata keduanya sama-sama sekelas namun tak pernah saling sapa.

Beberapa semester awal, mereka selalu dipertemukan dalam kelas yang sama, namun tak saling mengenal hingga tanpa sadar suatu hari demi melancarkan acara kelas, mereka mengadakan acara makan bersama. Dipertemukan lah mereka dalam sebuah acara sederhana yang ternyata hanya ada mereka ber-enam. Mulailah mereka menciptakan sebuah Genk yang mereka sebut dengan nama Tim sukses.

“Eh lu kan dulu kayanya kecil, kok sekarang gendut?” Tanya Khoti dengan logat jawanya
“Lah wong gua diempanin” Jawab Rahma yang tak kalah medok bahasa Betawinya

Seiring berjalannya waktu mereka menciptakan sendiri kekompakan dan kecocokan di antara mereka. Mereka mulai  berbagi cerita satu dengan yang lain, bermain dan belajar bersama. Bahkan dengan sengaja mereka mencari rumah kontrakan sebagai basecame untuk ditempati bersama, meskipun ada di antara mereka yang memang dekat dengan rumahnya.

“Gue mau cerita deh, masa gue putus terus dia kaga ngabarin gue lagi,” terang Inda “Kan gue jadinya gimana gituh ….”
“Lah lu putus kenapa?” Tanya si Aim
Yang kemudian dilanjut dengan pertanyaan Hera “Yang mutusin siapa?”
“Gue sih,” terangnya “Tapikan ….”
“Ya udah kalo emang putus mah putus aja, nyari lagi. Kaya cowok dia doang” jawab Khoti
“Tau lu, gue aja move on kok” Timpal Rahma
“Lu kenapa In?” Tanya Uliya dengan polosnya
“Gue habis putus Liy”
“Oh ….” Jawabnya seperti acuh tak acuh “Lu mutusin?”
Dengan nada kesal Khoti yang menjawab “Au amat Uli …. Dari tadi udah dijelasin panjang lebar, et dah ya”
Sementara yang lain menepuk jidatnya “Besok jangan lupa di kepala pasang antena ya” Lanjut Rahma
“Buat apa?” Tanyanya polos kembali “Kok kepala pake antena sih?”
“Biar lu bisa nyambung kalo lagi di ajak ngomong” Jawab Khoti dengan juteknya
“Ih kok gitu”
“Cape ngomong ama lu  mah Uli” Jelas Inda

***

bersambung ....

Rabu, 01 November 2017

Rindu yang Terhitung

Hasil gambar untuk pohon pinggir pantai
          sumber gambar: trivadvisor.co.id


Hai Rabu, mungkinkah kau temui Kamis di hari Jum'at. Atau mengajaknya pergi di hari Sabtu. Jangan biarkan Waktu menghitung Minggu di hari Senin, bahkan Selasa telah terhitung Bulan.

Masih ingatkah pada merpati yang menjadi saksi, kala senja mulai terbenam. Hingga sepoian angin pantai menjalar pada bulu kudukmu. Bukan merinding, tapi lirih dinginnya mulai merasuk pada nadi.

Diatas pohon tempatmu duduk, ada seekor burung hantu bersiul dengan nyaringnya hingga terdengar bak harmoni cinta yang didendangkan hati. Dan engkau dengan asyiknya mengayunkan kakimu.

Sementara aku, memilih menikmatinya dibibir pantai. Berbaring menatap langit malam, bersama rasi bintang yang ku coba menghitungnya dalam ejaan kataku. Sesekali bahkan ku tuliskan namamu di udara.

Adakah kau rasa, ketika alam mulai menghitung sebuah pertemuan. Ketika senja tak lagi jingga, ia gelap memaroon hingga menguning orange. Bulan tak lagi terlihat sempurna, bahkan ia memudar menjadi tsabit. Meski indah, namun sinarnya tak cukup memberimu cahayu. Sementara bintang, ia berkedip seorang diri seperti dirimu yang tak jengah tuk pergi.

Adakah kau lihat, ditempat yang sama. Kini menjadikanya abu, tak terlihat. Hanya tertinggal kenangnya, yang masih mengayun diatas pohon itu juga dengan burung hantu yang masih setia.

Mungkinkah kau kembali? Hanya waktu yang tau pasti, kapan kau kembali bahkan tidak sama sekali. Aku hanya menengadah kepada alam, menitah rasa tuk meraup kembali kenangan yang kini berubah tahun dan menjadikanmu sejarah. Tepat sebagai kisah klasik rindu yang terhitung.


Berjalan menuju Kematian

Sadar tidak sadar kita semua sedang bergerak. Bergerak menuju kematian yang pasti. Setiap detik yang kita lalui memastikan kepada kita akan kematian yang semakin mendekat.


Foto Siska Wati.Tahun lalu, kita dihebohkan dengan kabar seorang penyanyi muda bertalenta yang meninggal secara tiba-tiba, iya dia adalah Mike Mohade. Tak terlihat sakit. Usut punya usut, ternyata dia terkena angin duduk. Yang dalam istilah dokter adalah gejala jantung koroner. Kemudian, ini juga terjadi pada ayah saya sendiri, dimana saat itu dokter memastikan untuk dipindah ruangkan karena kondisinya yang sudah jauh membaik dari beberapa hari sebelumnya. Tapi kemudian, Allah memanggilnya tepat diwaktu ashar.



Apakah kita tahu? bahwa ajal tidak pernah menunggu untuk nanti. Masa muda memang masa mencari jati diri, namun jangan salah kaprah dengan kata mumpung masih muda masih bisa ngelakuin apa yang dimau, uring-uringan, seks dan pergaulan bebas. Apakah lantas dengan demikian, ada jaminan untuk hidup hingga tua??

Demikian juga yang tua, tidak ada jaminan ia hidup hingga anak cucunya menjadi cicit.


Bukankah Allah sudah mengingatkan:



كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (٢٦) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ (٢٧)


"Semua yang ada di bumi, akan binasa (26) Dan hanya Kekal dzat Tuhanmu lah yang memiliki kebesaran dan kemuliaan." (QS.55:26-27)


Berapa banyak manusia yang hidup dalam kelalaian. Sibuk mengejar dan memburu dunia, padahal dunia sedang berlari menjauhinya. Berapa banyak manusia yang lalai dari kematian, padahal kain kafannya sedang ditenun untuknya.



Ali bin Abi Thalib radliallahu 'anhu berkata,



ارْتَحَلَتْ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتْ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً 



"Dunia telah berjalan menjauhi, sedangkan akhirat telah berjalan mendekati." (HR. Bukhori)



Oleh karena itu, persiapkanlah kematian dengan baik. Setiap orang pasti akan berusaha keras untuk mendapatkan kehidupan yang baik, maka sudah sepatutnya kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan kematian yang baik pula.



Bukankah kita hidup hanya menunggu waktu shalat dan dishalatkan. Sejatinya penantian yang baik, adalah menanti kematian. Ingat bahwa, tidak hanya ada nikah muda. Tetapi mati muda pun menjadi followers sejati.


sumber gambar: @MCIslam

One More

“Dek, dengarkan ini.” Ucapnya. Lalu aku terdiam, tunduk mendengarkan. Bukan terkadang membahas rasa, tapi ia tak pernah berhent...