Tampilkan postingan dengan label Prosa Liris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa Liris. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2018

Perihal Rasa dan Lara


Bolehkan kubercerita tentang asa yang kini melara, rasanya menjemu habiskan dera. Bukan sebab datangnya pada singgasana, namun tersabab dilema yang kini kurasa. Dengarlah, wahai engkau nyanyian. Pernahkah sua meminta pada malam yang kelam? Di bawah lembayun temaran yang hening mengucap cerca.

Kumenipis hadir bukan tiada harap sebuah temu, namun naluri menjalar kabarkan iri. Menggelegar bak petir, menyentak dinding-dinding gua yang dingin. Haruskah kuteriakan engkau tepat dipendengaranmu, agar kau mengerti kuingin menepis rasa.

Namun lagi, kau terus mengiang dendangkan pujian. Bolehkah sekali lagi kutepis? Sungguh berat suaramu membayang nyata di pelupuk mata. Apakah kau sengaja? Hadir saat lara membekas dalam, luka yang mulai menanah karena harap sedari dulu yang pernah kau tepis.

Pergi saja, tanpa menaruh hati. Bisa kan?

Namun, lagi. "Tidak ada pertemuan tanpa sengaja." Ucapmu. Haruskah ku katakan bahwa kau adalah takdir, sungguh aku ingin, tapi tidak. Asaku mengingatkan bahwa kau adalah tamu yang cukup ku tawarkan segelas air, bukan sekeping hati.

Bisakah selagi lagi kupinta, pergilah tanpa perlu aku tahu kemana dirimu kan berlalu. Agar rasa yang terlanjur tumbuh itu mati, mati tanpa harus menangisimu.



Tangerang Selatan, 18 Juli 2018
-Renee Usshy-

Kamis, 31 Mei 2018

Harmoni Rindu

Dalam secerca harap bernama kisah, ia menitah seakan mengeja. Pada buaian waktu yang berbisik lirih, menjelma simfoni yang menyentuh hati. Rona pipinya memerah, namun matanya tersampul lemah.

Ia tak bersuara, meski mulut teriak menuntut cerita. "Bisakah sua tanpa perlu meminta?" Seakan menggema, bak gong dalam gua. Ia menjerit, sisakan derai air mata. Yang kini terbiarkan mengalir tanpa cela.

Tetesnya tak pernah berujung, hanya menyisakan sesak yang kini melukai hati. Jemarinya menari di atas meja yang sepi, seakan ketukannya meminta arti. Tapi hanya hening, seorang diri menepis sunyi. Oh Duhai ....

Bisakah rasa, tak pernah menggebu, sama seperti sebelumnya. Kala hadirnya tanpa pernah diminta. Lalu mengapa perginya, menyisakan bekas yang tak dapat dimengerti artinya. Bisakah hanya biasa saja, tanpa cela kecewa yang mengendap sesakkan dada.

Sebuah asa kini benar-benar mati, meninggalkan memori pada palung hati. Bisakah ia merasakan, bahwa jeritan itu terus mengiang di daun telinganya. Matanya sendu berpura-pura bahagia, seakan menyusun rencana yang sungguh paripurna. 

Haruskah berakhir sebuah penantian, setelah lara meringis sendu untuk kesekian. Pilu, menyayat sendu pada kidung kebekuan. Sampai kapan harus tangisi rindu yang tak berbalas?


#ProsaLiris

Sabtu, 24 Februari 2018

Peraduan Rindu Tak Bertuan


Jingga berwarna pada cakrawala senja menyapa, kala lara pada duka tak bertapa. Semenjak kehadiran datang menyamai tahta pada bahtera derita tak bernyawa.

Seonggok hati berbalut keruh ati empedu, mengotori dindingnya yang masih merah muda. Kini, tertutup lumur darah yang pekat. Cokelat memikat, menarik mata pada pilahan belahnya yang hampa.

Balur rindu menggebu kala jemari bertemu saling mengadu. Diperaduan menengadah, gebukan rasa tuntaskan kisah. Satu nama menghampiri, bak harmoni pada titah sang Ilahi Rabbi.

Sendu menepi pada singgasana wahai diri, terbalut emosi akan sakit yang memenjarakan hati. Terpenjara sunyi, sepi, pada abadi cerita sang Ilahi. Menanti pasti dari rundung yang keji.

Bertutur manja tepiskan derita, kisah cinta terbilang hampa. Menggoda diri dari sepi yang kian menyiksa dari sapa sang mahkota raja. Bersama menuntaskan, segenap asa yang berTuhan, pada diri dalam alunan peraduan rindu tak bertuan.



#OneDayOnePost
#ProsaLiris
#MasihTentangRinduTakBertepi

Jumat, 26 Januari 2018

Adalah Alasan



Gambar terkait
Sumber gambar: Intisari Online - Grid.ID


Sebuah kisah menjamur lara, pada rona kasih tumpukan cerita. Bisukan nyali yang berjiwa pada hati yang membara. Kepingan luka lama hancurkan percaya, tiap-tiap jiwa yang merana mengharap iba. Bak para durjana, memanah pinta, meminta paksa.


Iris, meringis, sisakan tangis. Deritanya meraba, menyapa lara. Kala kilau sebuah manis menyimpul bengis, oleh perilaku yang terbentuk iblis. Kecewa nampak hingga pelipis, menyiutkan manis dibibirnya yang tipis.

Tak ingin mengingat, ciptakan kenangan. Apalagi menyimpannya dalam bayangan. Namun, hanya bibir yang mampu bilang, nyatanya semua terkenang dalam ingatan. Dalam semua angan yang hampir terbang, matikan asa saat saling berpegangan. Hanya karena alasan yang saling bertentangan, hingga menjauhkan diri, melepas tantangan.

Sakit ku hiraukan, meski hati bernanah meminta pertolongan. Adakah ruang permohonan dimaafkan, dari harap pembebasan kesepian. Kesendirian menyindir oleh sesal yang mengukir, tinggalkan singgah bernama pertahanan.

Kesepian menjalara lara, dari keputusan mencerai kata. Ciptakan sunyi bertahta dari kilau kemintang yang menyapa. Adakah ruang permohonan dimaafkan, dari rasa yang sudah menderita.

Adalah belajar. Proses menyingkap, pelengkap ikatan pasangan. Meski kadang derita menyapa berpapasan. Adalah belajar, turunkan keegoisan. Meski kebenaran bersebelahan. Adalah belajar, ciptakan keharmonisan. Dari sekecil kesalahan yang mungkin bertentangan.


#Day16 #30DWC
#OneDayOnePost
#Prolis #Kesempatankedua

***
Sepenggal kata dalam prolis ini, tercipta dari based true story orang terdekat. Sebab ternyata lara tercipta karena diri tak ingin mengerti, sementara solusi hadir menghampiri seiring masalah terjadi. Hanya perlu, siapkan hati yang lapang, menerima akan problematika kehidupan. Sebab segala sesuatunya pun memiliki kadar. Jangan mudah takluk hingga membuat terpuruk. Sekali lagi, hanya perlu hati yang lapang, menerima kekurangan. Sebab kesempatan kedua berhak didapatkan untuk ciptakan pembelajaran.

Hasil gambar untuk AL BAQARAH AYAT 286
Sumber gambar : Dailymoslem

Minggu, 21 Januari 2018

Rindu Yang Berjamur

Gambar terkait

Seulas cerita dihari libur bersama cinta yang tak pernah kabur. Meski kini, rasa telah hampir tersungkur tersabab rindu yang sudah berjamur.

Ibarat pohon rindang yang menahun, menjulang serta merimbun. Sayupannya menahan yang tak tertahan. Menjadi lahan tempat persembunyian.

Ah, tidak! Ku harap ini hanya sebentar. Cukup hilangkan bimbang akan ragumu, biar ku menari pada altar sunyi ruangmu, bersama sisa-sisa serpihan kalbu.

Ku lerai, tak terikat. Biar terurai, tak mengumpat. Membentuk, lain terkatup. Apalagi menjadi tambang yang berbentuk.



#Day11
#30DWC
#OneDayOnePost

Sabtu, 20 Januari 2018

Takdir Berkata Lain

Hasil gambar untuk cinta kau bawa mati
Sumber gambar: hipwee

Hening berkalut membalut sunyi, hanya riak air meyamai sepi. Si inspirasi singgah di palung hati, yang sempat dimiliki sebagai kekasih hati. Tawanan diri yang dirindui, memikat dengan penuh arti, dibalik rimbun akan ego pada diri.

Sejuk melambai tersapa angin, mengitari imaji sesosok insan. Daku puja yang hadirkan nyaman, dalam hati yang tersimpan angan. Bak melodi yang dialunkan pelan dalam simphoni kehidupan. Rinai hujan hadir dengan sopan, menyambut mesra kau , wahai pujaan.

Memeluk erat selepas penat yang hampir mengikat. Terikat akan tirakat yang ku buat, bersamu di malam yang pekat. Selepas janji yang terikat di hari jum`at. Meski kini, tak ingin ku ingat. Cukup hutan saksi bisu yang menguat, akan janji yang tak pernah terungkap.

Engkau yang kucintai, bilamana kini takdir tak membersamai. Sudikah kiranya, kau menanti dalam abadi? Menunggu diri yang terlanjur mencintai, hingga tak bersisa tinggalkan naluri. Atau  biarkan diri kau bawa lari dari mimpi yang sudah terpatri.

Kini ku simpuhkan diri bersama abadimu, didekat papan bertuliskan namamu. Nama yang kini menjadi pengenalmu. Peti mati yang terpampang didepan diri, memberi hari yang kini terpenjara sepi. Semoga kelak kau kan sadari, cintaku tak pernah mati. Meski tangisku, kini tiada lagi berarti. Sebab kau sudah tiada lagi.



#Day10
#30DWC
#OneDayOnePost

Kamis, 04 Januari 2018

Heartbeat

Hasil gambar untuk perang dan krisis kemanuasiaan

Di tengah kehancuran dan api, luka terasa dalam. Ingin kami mengatakannya dengan keras, tapi suara kami lemah. Runtuh, bangunan tinggi tempat kami berlindung runtuh menimpa tubuh kami. Kami mungkin masih anak-anak, tapi suara tangisan kami berasal dari hati.

Semburat anyir bau darah adalah aroma wewangian yang dihirup kami dari hasil peluru yang di tembakan para zionis. Kami ingin menghapuskan ketakutan dan menjadikan perubahan, kami ingin mengatakannya dengan keras, semuanya mungkin dilakukan.

Percikan api menghujam langit malam membuatnya terang, orang-orang  berlari mencari perlindungan. Tak sempat memikirkan untuk mencari kerabat, hanya berusaha melindungi diri dari kobaran yang menghancurkan. Suara-suaranya menggetarkan bumi yang kami pijak, dari sebuah kendaraan tempur berlapis baja berbentuk rantai yang lemparkan meriam.

Tak tahu, apakah mereka hidup atau mati. Hanya ada suara jerih dari kepulan asap. Tangis kami berdarah, pedang-pedang mulai menghunus satu per satu kerabat kami. Tak peduli, kami terlalu kecil atau sudah tua renta.

Kembalikan masa kecil kami, masjid-masjid kami, sekolah dan rumah kami. Kami akan mengatakannya lebih keras melawan ketakutan. Kami tak akan menyerah, bersama-sama kami berharap dapat tumbuh menjadi lebih kuat. Hingga seseorang dapat mendengar, mimpi yang kami bangun bersama akan menjadi kenyataan bersama takbir Allah. ALLAHU AKBAR!.


#OneDayOnePost
#TantanganFiksiODOP8
#ProsaLiris

One More

“Dek, dengarkan ini.” Ucapnya. Lalu aku terdiam, tunduk mendengarkan. Bukan terkadang membahas rasa, tapi ia tak pernah berhent...