Rabu, 20 Desember 2017

Review Novel Sandiwara Langit

Hasil gambar untuk buku sandiwara langit karya abu umar  basyier


“Saya sadar, saya masih terlalu hijau untuk menikah. Tapi saya lebih sadar, bahwa tanpa menikah, saat ini saya merasa tak kuat menahan godaan syahwat.” (Hal.3)

“Ia mengenal masjid, saat remaja-remaja lain lebih akrab dengan bioskop, mall atau malah diskotik dan Night Club.” (Hal.19)

Sepenggal kalimat di atas merupakan cara Abu Umar Basyier menuliskan kegalauan lelaki muda yang tak bisa menahan nafsu syahwatnya. Beliau merupakan penulis buku best seller “Sutra Ungu” yang mana buku-bukunya di jadikan sebuah rujukan perkara mengenai pernikahan maupun pra menikah.

Beliau merangkumnya dalam sebuah cerita perjalanan hidup yang sungguh mengharukan, namun juga membanggakan. Sebuah cerita kisah nyata atau dapat di sebut dengan berbased true story.

Buku karya Abu Umar Basyier ini merupakan sebuah novel fiksi yang di ambil dari kisah nyata seorang lelaki muda di sebuah pelosok negeri Jawa yang meginginkan pernikahannya di usia muda dengan segala keterbatasannya. Dalam novel ini menceritakan perjalanan juga perjuangan lelaki yang beliau tulis sebagai Rizqaan juga Halimah.

Bagian menarik dalam buku ini di setiap  babnya adalah bentuk petuah yang di ajarkan melalui sikap Rizqaan yang mampu mengambil dan menerima risiko atas keputusannya menikahi wanita shalihah nan kaya. Keputusannya menikah dengan sebuah perjanjian menceraikannya setelah hidup selama sepuluhtahun jika tanpa perubahan secara ekonomi bersama sang mertua.

Di sisi lain, penulis sangat cekatan membangun karakter Rizqaan yang seakan-akan hidup dalam tulisannya. Tentang keinginanya menikah di usia muda dengan wanita shalihah yang kaya, hingga sebuah perjanjian atas keputusannya menikah, sampai perjuangan bergolakan hatinya harus berpisah dengan Halimah saat perjanjian sepuluhtahun itu berakhir, yang mana bersamaan dengan usaha rintisannya yang hangus termakan si jago merah tepat di usia pernikahannya yang ke sepuluhtahun.

“Sedikit sekali menyadari bahwa godaan dunia dengan segala kegerlapannya itu jauh lebih berat, bahkan dari siksaan kemiskinan yang paling mencekik leher sekalipun.” (Hal.62)

Novel ini juga menggambarkan bagaimana sebuah perjuangan pertahanan hidup sebuah keluarga yang jatuh bangun namun tetap mengedepankan Agama serta Iman dalam hatinya. Dengan tetap akan kesadaran diri, kerendahan hati bahwasanya ada keterbatasan yang tak bisa dilampui manusia. Maka dari itu novel yang di tuliskan Abu Umar Basyier ini menjadi salah satu bahan rujukan pranikah.

Bagaimana penulis menggambarkan kegalauan Rizqaan yang menginginkan pernikahan di usianya yang delapanbelas tahun sampai berhasil mempersunting wanita berjilbab yang kaya dengan sebuah kesepakatan yang ia anggap seperti sebuah perjudian, hingga ia memiliki anak dan berhasil menaikan taraf ekonomi keluarga kecilnya hingga tepat di hari ke sepuluhtahun, semua menjadi lenyap seketika dengan masalah yang bertubi-tubi hingga menjadikan keduanya harus benar-benar berpisah dengan segala cintaNya yang mengikat atas izin Allah. Namun, tetap dengan mengedapankan Iman serta Taqwanya kepada Rabbi.

Semua pertanyaan yang mungkin menjadi momok ketakutan bagi  kita yang menginginkan pernikahan, akan terjawab jika kita membaca buku karya Abu Umar Basyier, yang mana salah satunya berjudul “Sandiwara langit” ini. Yang mana perjalanan hidup dan sikapnya menjadi salah satu bentuk petuah tak berguru yang penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nasihat lain dari penulis sendiri adalah bahwa “orang yang beriman adalah orang yang tidak akan bisa terpuruk karena rasa sedih dan ketakutan.”

Judul Buku : Sandiwara Langit (Sebuah kisah nyata, bertabur hikmah penyubur iman)
Penulis       : Abu Umar Basyier
Penerbit     : Shafa Publika, Sukoharjo
Halaman    : 212 halaman
Cetakan Keempatbelas April 2013.


#Tantangan4Fiksi ODOP
#ReviewBuku

Senin, 18 Desember 2017

Alea : Sebuah Pertemuan (Part 1)

"Apakah dia benar-benar mengajakku tuk bertemu?" tanya gadis bermata sipit dalam cerminnya.
Nampaknya gadis itu masih tak percaya dengan sebuah pesan diponselnya.
"Hi, Alea. Bagaimana tawaranku? Bisakah kita bertemu?" pesannya kembali masuk diponselnya.
Kini ia pun menyunggingkan garis dibibirnya, "Mmm ... Boleh." Jawabnya singkat, dengan sedikit ragu.
"Baiklah, kabari aku jika kamu kesini. Nanti aku jemput di stasiun terakhir yah." Balasnya cepat.
Sementara Alea, hanya membalasnya dengan emoticon senyum.

***

Alea, gadis manis bermata sipit yang selalu membiarkan rambutnya terurai. Saat kesendirian mempertemukannya dengan lelaki asing, bernama Peuche Chan. "Ah nama yang sulit untuk dilafalkan." Gerutunya saat pertama berkenalan. Iya, seorang lelaki yang ia sendiri tak pernah tahu seperti apa wujudnya. "Hahaha, jahat sekali aku." Tawanya dalam hati, saat melihat fotonya yang tersimpan diponsel.

Namun, entah mengapa. Lelaki itu, selalu menjadi bahan obrolan yang sangat asyik. Lelaki yang ia kenali hanya melalui fitur media sosial. Ia merasa ada yang lain dengan lelaki itu, seakan-akan memang sudah pernah bertemu dan mengenalinya persis. Iya, hanya karena komunikasi yang intens setiap harinya. Meskipun sesekali dalam kesibukannya.

Kak Pingsan, sebutnya. "Ah untuk sebutan orang yang baru dikenal, rasanya ini tidak sopan." Gerutunya.

Namun meskipun begitu, ia tetap saja memanggil dengan sebutan yang sama setiap harinya, kadang dengan nama Peci, bahkan Pisang. "Ah, selama ini dia tak pernah memarahiku meskipun dengan panggilan aneh."

Beberapa waktu terakhir hubungan keduanya nampak begitu dekat, saling melempar tawa, juga canda. Meskipun hanya dilakukan via media sosial saja. Wajah yang tak saling mengenali, hanya percaya pada sebuah foto. Namun, entah bagaimana keduanya pun berubah menjadi sangat akrab.

Alea merasa sangat nyaman, dirasanya pula dengan lelaki itu. Seiring berjalannya waktu, ada rasa temu yang menggebu, ada setitik rindu yang mulai menyayat hati. Sebuah rasa yang tidak seharusnya ada, apalagi untuk urusan keduanya yang tak saling tahu seutuhnya.

"Hi, sipit. Jadi kan kita ketemu?" goda Peuche Chan mengingatkan.
Ia hanya tersenyum, betapa dirasa lelaki itu sangat unik. Meski tak pernah tahu, keunikan sebenernya dimana. "Cie, yang mau ketemu." Jawab Alea kembali menggoda.
"Akhirnya aku bakal ketemu sama mata sipitnya kamu." Kembali ia mengusilinya.
Dan lagi, Alea hanya menyunggingkan bibirnya.

***

Pagi yang berselimut awan, nampaknya mentari pun sedang bermain dengan manjanya. Menyembunyikan sinarnya, lalu kembali terang dan bersembunyi kembali.

Hari pertemuan itu pun tiba. Siang itu, Alea mulai bergegas bersiap-siap ke stasiun. Bersamanya disambut hujan, ia menengadah berharap hujan tak turun lebih deras. "Cukup gerimis romantis saja untuk sebuah pertemuan," ujarnya dalam hati yang mulai bergemuruh tak karuan, lalu ia pun tersenyum menyadarinya.

"Jadi hari ini pergi?" pesan Peuche lebih awal.
"Jadi. Kak Pisang dimana?" balasnya.
"Aku sudah di stasiun akhir."
"Baiklah Kak Pisang."

Tigapuluh menit berlalu, tibalah gadis itu di stasiun akhir.
"Kak Pingsan dimana?" tanyanya melalui pesan.
"Aku masih di stasiun."
Keduanya pun saling mencari, matanya membelalak ke kanan dan ke kiri. Alea dengan modal foto yang tersimpan diponselnya, sementara lelaki itu hanya bermodalkan pesan chat diponselnya.

Namun, ketidaksengajaan meliriknya. Mempertemukan mereka pada pandangan pertama. Perasaan Alea pun membuncah mengenalinya. Ia mengahampiri dengan pelan, menyapanya terlebih dahulu.

"Kak Peuchan?" sapanya, yang kali ini dengan sebutan yang benar.
Lelaki itu pun menengok ke arah suara, membuka kacamatanya. "Alea yah?" jawabnya.
Ia hanya mengangguk. Tetiba bibirnya terkatup, perasaannya membuncah, nyalinya tak terkendali. Pertemuan yang direncanakan setiap hari itu pun, telah tiba. Sadarnya. 


#Tantangan3FiksiODOP
#Swasunting

Sabtu, 16 Desember 2017

Puisi seorang Hamba

Gambar terkait
sumber gambar: ceelbarafonline.blogspot.com

Kami hanya pendosa yang mengharap ampun
Akan khilaf serta salah
Maka tuntunlah hati kami Ya Rabbi
Tuntun kami pada kebenaran nikmat akan jalan-Mu
Sertakan kami untuk bersama orang-orang mukmin
Orang-orang yang shalih nan shalihah
Orang-orang yang selalu rindu dengan-Mu

Ya Illahi ...
Lindungilah kami,
Lindungilah kami ....
Dari orang-orang dzalim
Dari orang-orang munafiqiin
Tuntun hati kami Ya Rabbi
Kuatkan iman serta taqwa dalam hati kami

Ya Habibi ...
Tegur-Mu menyapa kami,
Engkau hidupkan gunung agung hingga menyemburat isinya,
Engkau hidupkan sungai kami, hingga ia memarah,
Engkau hidupkan tanah kami akan kesombongan kami,
Engkau ciptakan Israel sebagai bentuk jalan jihad kami.

Dan kini Ya Rabbi,
Engkau bangunkan kami saat tengah pulas dipecundangi dunia,
Bergetar ....
Bergoyang ....
Riak suara bergemuruh menjadi satu
Teriak setiap insan menyebut TAKBIR
Allahu Akbar Allahu Akbar
Kami berlari,
Terlontang lantung mencari perlindungan
Kami meringis akan kuasa-Mu Ya Rabbi

Ya Rahmaan,
Ya Rahiim ...
Tegur-Mu menyapa kami,
Tapi kami masih sombong ..
Enggan tuk bertaubat

Ya Aziz ...
Tetapkan sejumput hidayah kepada kami,
Lindungilah kami,
Ampunkan kami Ya Rabbi ...
Ya Ghofuur ...
Dari segala nikmat serta amanah yang Engkau titipkan,
Sempatkanlah kami bertaubat sebelum ajal memikat

Ya Hanana ...
Terimahlah seru shalawat serta salaam kami,
Assalamu'alaika Yaa Rasulullah
Assalamu'alaika Yaa Habibi, Ya Nabi Allah



Tangerang, Sabtu 16.12.2017


*Maka sempatkan lah berdoa, semoga Allah melindungi kita dimana pun kita berada.

بسم الله الرحمن الرحيم

اَللَّهُمّ إِنّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا، وَخَيْرَ مَا أَرْسَلْتَ بِهِ؛ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّمَافِيْهَا وَشَرِّمَا أَرْسَلْتَ بِهِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan  apa yang didalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi didalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan. Aamiin

Kamis, 14 Desember 2017

Tentang Dea

Gambar terkait
sumber gambar: weheartit.com

“Aaaaa ....” teriaknya begitu kencang dengan ketakutan. “Bibi … bibi ….” Ia terus memanggil bibinya dengan suara yang amat keras. Badannya lemas, wajahnya memucat, keringat di tubuhnya kini mulai bercucuran. Sementara kakinya bergetar termakan ketakutan, suaranya risau dengan bersama isak tangisnya.

Bibi pun menghampiri dengan wajah pasi sebuah kekhawatiran, “Ada apa? Kamu kenapa?” tanyanya seperti wartawan sembari menyeka tubuh mungil gadis itu yang hendak kan pingsan.

“Jauhkan itu dari hadapanku bi.” Matanya terpejam tak mampu memandang. Ia hanya menunjuk telunjuknya ke arah tumpukan majalah lama yang tersimpan rapih di sebuah kardus yang telah lusuh.

Tanpa aba-aba lagi, bibinya pun segera menoleh ke arah kanan dan ke arah kiri,  mencari sesuatu yang panjang untuk mengusirnya secara paksa. “Hus, hus … pergilah kau!” Usirnya dengan sapu. Lalu kemudian, ia menolehkan pandangannya kembali pada gadis mungil itu. Dan menatapnya dengan begitu dalam. “Kamu? Katanya dokter hewan. Cuma sama tikus seekor saja, tanganmu sudah panas dingin seperti ini, bagaimana dengan hewan yang lain?” gurau sang bibi.

Ia hanya tersenyum, dan  mengakuinya mesti tak secara nyata. Tubuhnya kini benar-benar kehilangan hidrasi, matanya sayu, suaranya terengah seperti berlari. “Kayanya, aku gagal jadi dokter hewan. Apa yang dikatakan bibi barusan memang benar.” Fikirnya kembali meronta.

Gadis mungil itu bernama Dea. Ia menyadari bahwa ketakutannya, mungkin tak wajar. Namun, entah bagaimana ia  tak mampu mengelak. Sepertinya, kisah lama itu meninggalkan traumatisnya hingga kini.

“Hei!” sapa bibi memecah lamun. “Sudah jangan banyak melamun, kamu pasti bisa. Pelan-pelan saja.” Terangnya memberi harap baru, dengan sembari mengelus punggung tangannya Dea.

Gadis itu pun tersenyum. Saat ia kembali memupuk harapnya, ia menyadari bahwa mimpinya sekaligus melepas belenggu traumatis dalam dirinya sendiri. Kemudian agak lama, indra penciumannya begitu pekat akan bau yang tak lagi asing untuknya. “Huuuum ….” Katanya setengah berbisik. Matanya terpejam menikmati, sementara hidungnya mencoba mengendus-ngendus aromanya.

Bibinya pun, mulai ikut mengendus  baunya. “Duh … wanginya.”

“Kuwah itek?” tebak keduanya saling memandang. Mata Dea pun membelalak senang, dan seakan memberi tanya benarkah?. Sebab ia tahu betul bahwa itu adalah kuwah itek, makanan kesukaannya. “Bibi buat kuwah itek?” lanjutnya bertanya.

Namun ternyata, pertanyaanya menyadarkan bibinya. “Astaga,  bibi lupa.” Matanya membelalak. “Bibi masih masak,” ia segera melepas tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Dea. “duh bisa-bisa bebekku kering.” Teriaknya sembari berlari menuju arah dapur.

Dea pun hanya tertawa melihat tingkah bibinya. Ia pun dengan segera mengikuti bibinya ke arah dapur. Meninggalkan sesuatu di tempat sana, tanpa ia sadari.

Setelah beberapa waktu ia  membantu bibinya, kini ia tinggal menyantap kuwah iteknya. Meski rasanya sedikit berbeda, namun  tak mengubah mood makannya. Sore itu, ia memilih menyatapnya di bawah pohon mangga yang berada di pekarangan rumah bibi.

Ia makan dengan begitu lahap, kuwah itek –jenis makanan khas Bireun-Aceh yang artinya gulai bebek- adalah makanan kenangan dirinya selapas orangtuanya meninggal. Kuwah itek juga bentuk kerinduan bagi dirinya.

“Aku rindu Pak, Bu.” Hatinya berbisik, sementara tubuhnya ia sandarkan pada batang pohon itu. Hatinya bergolak, meminta temu. Namun menyadari, bahwa itu sebuah ketidakmungkinan.

Matanya kembali terpejam, bayangannya jelas menari dipelupuk mata. Semilir angin di sore itu memberi sunyi juga tenang. Nuansa nan syahdu, ketika ia membuka matanya, pelangi di ujung senja memberi suratan dan goresan senyum dibibirnya yang tipis. “Kata orang, jika ada pelangi saat kau merindu. Maka, orang yang kau rindui juga tengah hadir melihatmu merindu. Benarkah demikian Pak, Bu?” ujarnya dalam hati yang kemudian tersimpulkan oleh senyum.

Kini ia menyadari, senja semakin jingga. Waktunya ia masuk kedalam rumah. “Dimana sandal jepitku?” ia bertanya. Mengingat kembali memory dalam otaknya. “Bukannya aku tadi dibelakang mencari sandal jepitku yah?” ia kembali bertanya pada dirinya sendiri, mencoba mengingat-ngingatnya kembali. “Ah, ku  rasa tadi aku kesini pakai sandalnya.” Ia mengelak.

Ekspresi di wajahnya tak dapat dipungkiri, bahwa ia tengah berfikir keras mengingat-ngingat memory dalam otaknya. “Atau … aku lupa naruh yah?” ujarnya mencoba menerka. “Ah, biarlah.” Ia pun pasrah melupakannya.

Terkadang ia menjadi  pelupa, acap kali trauma itu dirasa. Kini, ia melangkahkan kakinya, menuntunnya turun dari kursi yang di sandarkan di bawah pohon itu. Tetiba, seekor tikus melintas. ‘Pyaaaaaaaaar’ “Bibiiiiiiiiiiiiiiiii ….” Teriaknya bersamaan mangkuk yang jatuh dan pecah.

Selesai.


#TantanganFiksiODOP
#LimaKataKunci

Rabu, 13 Desember 2017

Dalam Istikharah Cinta

Hasil gambar untuk pergolakan hati
sumber gambar: wattpad





Sudah pantaskah diriku menemui waktu, lalu bersanding dan bergelarkan mimpi semua wanita. Sementara, lidah ini masih mencerca problematika kehidupan, hati ini masih di buat penasaran akan kehidupan di sisi lainnya.

Ku terperosot pada kehampaan pilihan, menemu titik yang keduanya terbayangkan kejenuhan. Jika tak ku ambil salah satunya, maka aku hanya bagian orang-orang yang dipecundangi dunia. 

Ku mencoba meniti langkah, merubah perubahan dengan segenap asa. Terbesit dihati, pendidikan dan karir adalah yang utama. Namun, siapa dapat menjamin akan berjalan dengan begitu mudahnya. Bukan? Bukan ku tak percaya janji-Nya. Hanya saja, aku pun berperasa, hati inginkan lebih.

"Jadi kapan, bawa teman untuk temani main catur di rumah?" tanyanya waktu itu. Aku hanya tertunduk, tersimpul dengan senyuman. Entah sebuah pertanyaan yang serius, atau justru hanya dibingkai senda gurau. "Dengan segera," kataku menjawab.

Namun seiring berjalannya waktu, ku enyahkah semua perasaan. Aku hanya ingin memfokuskan diri, menuntun ilmu dunia dan akhiratku. Insyaa Allah.

Suatu hari, satu demi satu ku terima kabar dari mereka nan jauh. "Alhamdulillah, acara lamarannya lancar. Mohon do'anya, semoga Allah mudahkan sampai hari H." Jelas temanku dengan bahagianya. Aku pun tersenyum, melihat sosok yang dulu ku kenal begitu lugu. Kini ia akan bersanding dengan kekasihnya. "Lalu kapan denganmu?" temanku yang lain berbisik. 

Lagi, aku hanya diam. Sesekali ku jawab dengan gurau. Melewati hari dalam kesendirian jua kebekuan hati, aku menari di atas hati yang hampa untuk satu hal ini. Namun di sisi yang lain, aku menikmati kesendirian dengan semua aktifitasku. 

"Apakah aku waras?" beberapa kali pertanyaan itu terlontar dari bibirku. Entahlah, mengapa aku sendiri mengatakan hal itu. Mungkinkah kisah kelam, mendorong ku untuk tidak mengenalinya. Aaah, ku rasa tidak!. Ataukah, hatiku mati untuk menerima kenyamanan yang selalu di tawarkan? Bibirku pun terkatup rapat, tak peduli.

Sebuah pertolakan menyita hati, ku buang jauh-jauh bayang diri. Hanya cukup ku kejar asa, menggapainya dengan sebegitu mudahnya. Kembali ku enyahkan akan pertanyaan-pertanyaannya. Iyah, aku hanya ingin melerai segala yang terkusut.

Merindu dan inginkan hadirnya bukanlah kesalahan, sebab setiap insan menginginkan hadirnya memberi arti. Meski, hingga kini pun ku masih enggan untuk membukanya dengan begitu mudah. "Nak, kamu tahu temanmu yang dibelakang rumah. Sekarang sudah punya anak." Kini, sebuah pernyataan itu terlontar dari bibir manis orang tercinta.

Oh, mungkin itu kode. Kembali ku enyahkan. Dengan aktifitas yang menyita waktu dan fikirku, kadang menjadi sendiri lebih menyenangkan daripada harus berdua menyatu emosi. Ah, ini bentuk pembelaan diriku menghindari pertanyaan mereka. "Ah umurku masih muda kok." Ku yakini diriku.

Namun apakah untuk bergelarkan demikian, menunggu umur mampu dikatakan cukup. "Apakah usia menjadi batasan?" kembali pertanyaan itu mengahalau fikirku. "Lalu bagaimana dengan mereka, yang tersita usia mudanya untuk bergelarkan istri? Bukankah mereka kehilangan masa mudanya?"

Hatiku bimbang menentu pilihan. "Apakah usiaku ini, sudah pantas bergelar demikian. Sementara, ku masih berkelu kesah akan roda-roda kehidupan yang kini menghantui sepeninggalnya." Keningku berkerut, tanganku menyeka kepala seakan-akan ia akan terjatuh dengan mudahnya. Di sisi lain, meyakini bahwa pantas. Sebab dengan demikian, ku kan terjaga.

Entahlah, sepeninggalnya hatiku sering terhujam dengan pertanyaan yang menyudutkan bahagiaku. "Kapan nikah?" hatiku gusar mendengar pertanyaan itu, namun juga kelu.

Pernah ku buka hati, menerima sosok yang sempat hadir. Namun hanya menawarkan kenyamanan, dengan saling melempar canda tawa. "Bukankah hal itu sudah cukup baik?" fikirku menyapa. Namun, sekali lagi ku katakan itu tidak. Hatiku berbisik meminta yang lain, yang tidak hanya menawarkan namun menjamin.

Kini, ku harap hatiku tak lagi bergolak menentu keduanya. Biarkan ku tenang memilih dalam istikharah cinta bersama-Nya. Meski ku hindari pertanyaan-pertanyaan, biar ku lerai segala yang terkusut agar fikir dan hatiku menyatu dalam kebersamaan rasa serta ibadah-Nya.


Tangerang, 13 Desember 2017

#TantanganODOP
#TemaSehariHari

Selasa, 12 Desember 2017

Menulis apa ... ?

Hasil gambar untuk pena di atas meja



sumber gambar: px.Here


Tak kutemui kata yang harus kutuliskan terlebih dahulu, dan aku selalu saja dibuatnya dilematis sesaat memulainya. Entah aku benar-benar kehilangan kata-kata, atau justru aku tak punya kerajinan untuk memulainya.


Satu, dua, aku, kamu. Fikirku dalam khayal mencoba berimajinasi. Sementara penaku masih saja menari diatas kanvas putih bergaris. Ia seperti tak bersabar untuk segera mengisi setiap barisnya.



Tanganku luruh, penaku lusuh. Dijapit kebuntuan yang menyeluruh pada kanvas yang tak lagi utuh. Lalu ku remaskan, dan ku buang jauh-jauh. Ku ambilkan yang baru, dengan segenap fikir yang ku buat haru, ku mulai menulisnya. Meski tak kutemui kembali, kata seperti apa untuk memulainya.



"Menulis apa?"

Gumamku pada hati, seolah petanda bahwa kebingungan tengah menghampiri. Tiba-tiba, seseorang hadir dan berbisik mengatakan: "Pergilah keluar, dan lihatlah langit. Kau temui apa yang berada disana?". Aku pun keluar, mataku teralihkan oleh hujan.


Tanpa aba-aba, mata kecilku terpejam, hujan diluar sana memberi aroma yang mengejukkan lalu mengubah fikirku, dan menepis kekhawatiran. Aku dibuai alunan romantisnya, dan didekap erat oleh dinginnya. Bibirku terkatup, merasakan hening dan aura hadirnya.



Rintiknya seperti suaramu, yang menyelinap masuk rongga dadaku. Menggetarkan asa, lalu menaruh senyumnya dibalik derasnya hujan. Ku terbangun pada khayal pejaman mataku, dengan segera ku jumpai dan meraba penaku. Ku tuliskan tentang dirimu, yang merindui hujan, mungkin pula diriku. Ah, biarkan saja ku katakan ini dengan begitu percaya diri. Sebab, dirimu seperti hujan. Tak mampu ku cegah hadirmu, namun ku tak bisa melarangmu, jika pun dirimu harus pergi.



Senyumku menjadi pasi, ku terhenti menulis tentangnya. Penaku pun mulai bergerak, mengetuk-ngetuk meja, tanda bahwa ia mulai kehilangan baitnya. Ku melirik jendela, menatap kearah luar sana dengan sebegitu seksamanya. Terlintas kembali tentangmu, yang hampir usai.



"Pegang keyboard dan menulislah." Katamu kembali berbisik, mengusik lamun. Dengan senyum yang kembali mengapung, segera ku tuntaskan kisahmu. Kini ku tinggalkan pena, memfokuskan diri, didepan layar laptopku sambil sesekali menikmati hadirmu dibalik bayangan cermin yang terpantul. Dan kau masih singgah dengan senyum yang tak lagi asing.



Jemariku tak henti tuk menulis, ia menemukan kata untuk menyelesaikannya. Sambil terus bergumam, "Hanya sebuah catatan kecil, merindumu dalam hujan." Kini ku harap, dapat bersanding bersamu meski harus berpayungkan hujan.



#TantanganODOP

#Temaseharihari

Senin, 11 Desember 2017

Jangan Biarkan Sesal

Disebuah sekolah pasti selalu ada waktu kapan diharuskannya olahraga dalam satu pekan. Jika waktunya telah tiba, semua para siswa diharuskannya mengikuti tanpa terkecuali. Apabila saat itu, guru olahraga memberikan praktik untuk lompat tinggi maka semua siswa pun harus mencobanya satu demi satu.


Suatu hari, tiga dari beberapa siswa tidak menyukai lompat tinggi dikarekan ia tak bisa melompat. Namun, saat itu mereka harus mengikutinya demi nilai ujian praktiknya. Apa yang akan dilakukannya?? Apakah mereka memilih untuk tetap melompat dengan resiko kakinya cedera? atau justru akan berdiam diri, menyerah sebelum mencoba? Atau malah menghindari keduanya dengan alasan izin tak masuk sekolah?



Dengan lantang siswa satu berteriak mengikuti latihan, meski ia tahu setelahnya kakinya beresiko cedera. Siswa kedua memilih untuk tidak mengikutinya, daripada mencobanya sehingga menyebabkan kakinya cedera. Sementara siswa ketiga, memilih tidak masuk sekolah tiap kali jam olahraga itu berlangsung.



Hal itu pun berlangsung hingga mendekati pekan ujian praktik. Ketiga siswa itu pun akhirnya mengikuti. Singkat cerita, siswa tiga itu pun dengan sangat terpaksa mengikuti ujian tanpa latihan sebelumnya. Ia melompat tanpa dasar awalan yang benar, sehingga menyebabkan kakinya benar-benar cedera. Disisi lain, siswa kedua mengikuti ujian praktik itu, dengan pengetahuan yang ia liat tanpa pernah mencoba latihan. Dan benar saja, ia cedera seperti apa yang menjadi ketakutannya.



Sementara siswa pertama itu, dengan keyakinan dan kepercayaan dalam dirinya ia 'pasti bisa' meski cedera setelah latihan selalu tak dapat terhindarkan. Ia pun bersiap lalu melompat seperti yang telah diajarkan gurunya. Beberapa saat kemudian " ... Prok, prok, prok ..." Suara tepuk tangan terdengar dari semua siswa termasuk gurunya. Ia tak percaya, bahwa ia melalukannya dengan sangat baik, pendaratan dan awalan yang baik, ia menoleh ke kakinya, hampir tak percaya kakinya tak menyentuh tongkat yang melintang tinggi didepannya, tanpa cedera dan ia menyadarinya ia bisa. 



Saat tiba hari kelulusan pun, ia tak dapat menyembunyikan betapa matanya berbinar haru menerima hasilnya yang memuaskan dan dinyatakan Lulus, sementara dua temannya yang lain harus mengikuti ujian berikutnya.



***



Kisah diatas merupakan sebuah analogi sederhana dalam kehidupan. Yang mana kehidupan adalah opsi, dimana memilih dan dipilih adalah sebuah keharusan dalam mata rantai kehidupan. Meski tak memilih pun adalah pilihan. Tapi? apa mungkin kita tak memilih? padahal telah jelas bahwa dengan demikian kita telah mendekatkan diri kepada kekalahan, dan ketidakbermanfaatan dalam hidup.



Mengapa demikian?

Karena ketika kita tak memilih, kita hanya hidup dalam keadaan yang monoton, yang tidak berproduktifitas lalu menjadikan diri tak bermanfaat seperti halnya siswa tiga tadi.


Dan ketahuilah, bahwa semua opsi adalah resiko. Namun percayalah, bahwa resiko apapun hanya tergantung pada diri kita sendiri. Berani mengambil resiko lalu merubahnya menjadi lebih baik, atau tidak mengambil sama sekali resiko hanya untuk menghindar dari satu masalah yang justru mendatangkan masalah baru sehingga membuat sesal.



Maka dari itu, jangan biarkan sesal menjadi sebuah pilihan hanya karena kita mengindari resiko. Karena pilihan apapun adalah resiko. Berani memilih, berarti berani menerima resiko. Maka tanamkan pada diri, bahwa proses tidak akan pernah menghianati hasil.



Semangatlah para pejoang. 😊

One More

“Dek, dengarkan ini.” Ucapnya. Lalu aku terdiam, tunduk mendengarkan. Bukan terkadang membahas rasa, tapi ia tak pernah berhent...