
“Saya
sadar, saya masih terlalu hijau untuk menikah. Tapi saya lebih sadar, bahwa
tanpa menikah, saat ini saya merasa tak kuat menahan godaan syahwat.” (Hal.3)
“Ia
mengenal masjid, saat remaja-remaja lain lebih akrab dengan bioskop, mall atau
malah diskotik dan Night Club.” (Hal.19)
Sepenggal
kalimat di atas merupakan cara Abu Umar Basyier menuliskan kegalauan lelaki
muda yang tak bisa menahan nafsu syahwatnya. Beliau merupakan penulis buku best seller “Sutra Ungu” yang mana buku-bukunya
di jadikan sebuah rujukan perkara mengenai pernikahan maupun pra menikah.
Beliau
merangkumnya dalam sebuah cerita perjalanan hidup yang sungguh mengharukan, namun
juga membanggakan. Sebuah cerita kisah nyata atau dapat di sebut dengan berbased true story.
Buku karya
Abu Umar Basyier ini merupakan sebuah novel fiksi yang di ambil dari kisah
nyata seorang lelaki muda di sebuah pelosok negeri Jawa yang meginginkan
pernikahannya di usia muda dengan segala keterbatasannya. Dalam novel ini
menceritakan perjalanan juga perjuangan lelaki yang beliau tulis sebagai
Rizqaan juga Halimah.
Bagian menarik
dalam buku ini di setiap babnya adalah
bentuk petuah yang di ajarkan melalui sikap Rizqaan yang mampu mengambil dan
menerima risiko atas keputusannya menikahi wanita shalihah nan kaya. Keputusannya
menikah dengan sebuah perjanjian menceraikannya setelah hidup selama
sepuluhtahun jika tanpa perubahan secara ekonomi bersama sang mertua.
Di sisi
lain, penulis sangat cekatan membangun karakter Rizqaan yang seakan-akan hidup
dalam tulisannya. Tentang keinginanya menikah di usia muda dengan wanita
shalihah yang kaya, hingga sebuah perjanjian atas keputusannya menikah, sampai
perjuangan bergolakan hatinya harus berpisah dengan Halimah saat perjanjian
sepuluhtahun itu berakhir, yang mana bersamaan dengan usaha rintisannya yang
hangus termakan si jago merah tepat di usia pernikahannya yang ke sepuluhtahun.
“Sedikit
sekali menyadari bahwa godaan dunia dengan segala kegerlapannya itu jauh lebih
berat, bahkan dari siksaan kemiskinan yang paling mencekik leher sekalipun.”
(Hal.62)
Novel ini
juga menggambarkan bagaimana sebuah perjuangan pertahanan hidup sebuah keluarga
yang jatuh bangun namun tetap mengedepankan Agama serta Iman dalam hatinya. Dengan
tetap akan kesadaran diri, kerendahan hati bahwasanya ada keterbatasan yang tak
bisa dilampui manusia. Maka dari itu novel yang di tuliskan Abu Umar Basyier ini
menjadi salah satu bahan rujukan pranikah.
Bagaimana penulis
menggambarkan kegalauan Rizqaan yang menginginkan pernikahan di usianya yang
delapanbelas tahun sampai berhasil mempersunting wanita berjilbab yang kaya
dengan sebuah kesepakatan yang ia anggap seperti sebuah perjudian, hingga ia
memiliki anak dan berhasil menaikan taraf ekonomi keluarga kecilnya hingga
tepat di hari ke sepuluhtahun, semua menjadi lenyap seketika dengan masalah
yang bertubi-tubi hingga menjadikan keduanya harus benar-benar berpisah dengan
segala cintaNya yang mengikat atas izin Allah. Namun, tetap dengan mengedapankan
Iman serta Taqwanya kepada Rabbi.
Semua pertanyaan
yang mungkin menjadi momok ketakutan bagi kita yang menginginkan pernikahan, akan
terjawab jika kita membaca buku karya Abu Umar Basyier, yang mana salah satunya
berjudul “Sandiwara langit” ini. Yang mana perjalanan hidup dan sikapnya menjadi
salah satu bentuk petuah tak berguru yang penting diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Nasihat lain dari penulis sendiri adalah bahwa “orang yang beriman
adalah orang yang tidak akan bisa terpuruk karena rasa sedih dan ketakutan.”
Judul Buku
: Sandiwara Langit (Sebuah kisah nyata, bertabur hikmah penyubur iman)
Penulis :
Abu Umar Basyier
Penerbit : Shafa Publika, Sukoharjo
Halaman : 212 halaman
Cetakan Keempatbelas
April 2013.
#Tantangan4Fiksi ODOP
#ReviewBuku

