Selasa, 17 Oktober 2017

Pentingnya memupuk diri

Instead of waiting for a better start this time, if not today then when again..
This is MY CHOICE.. !!!
***


Sebagaimana yang telah dikatakan banyak orang, perihal hati tak ada yang tau. Hanya Allah lah, sang Maha Memiliki Hati. 



Ada beberapa bahkan mungkin sebagian orang, menjadi sesuatu yang penuh ekspresif tidaklah mudah. Namun, sebagian yang lain justru lebih mudah. Pelarian yang pertama adalah curhat. Masih banyak orang mementingkan jawaban dari curhatannya hanya sekedar ingin mencari supporter untuk dirinya.



Masih berlindung dibalik nasihat-nasihat, "Kamu harus bla, bla, dan bla supaya bisa move on ... (oh, jadi nanti aku harus seperti ini)" Misalkan. Tanpa tahu, seperti apa perjuangan untuk memperoleh ataupun mempertahankannya. Belum lagi, jenis permasalahannya. Padahal yang demikian itu sifatnya hanya sekunder.



Mengapa demikian?

Sederhanaya, ketika kamu memilih untuk bertahan tapi hati telah lelah. Apa harus dipaksa bertahan? Bukankah itu sebuah keegoisan terhadap diri? Bukankah yamg demikian adalah ketidakadilan?


Well, this is an option.

Sebagaimana quote para pujangga "Apa yang membuatmu tersenyum pertahankan, apa yang membuatmu menangis maka tinggalkan". Nah, disini pentingnya menata hati, hatimu adalah semangatmu. Semangatilah dirimu sendiri, sehingga kamu tak perlu lagi mencari pembelaan terhadap dirimu sebab sebaik apapun sebuah nasihat semangat oranglain kalau hatimu tidak ada sedikitpun semangat semua menjadi tiada guna. Tapi lain, ketika dirimu telah semangat lalu mendapat semangat dari oranglain, seketika semangatmu semakin menggebu, semakin menggelora yang akhirnya menjadikanmu sesorang yang penuh ekspresi.


Memupuk diri tuk menjadi tetap semangat, selalu berdampingan dengan sifat yang sekunder tapi jangan lantas terus bergantung padanya. Sebab sejatinya semangat hadir dari dalam dirimu sendiri yang terpancar keluar hingga membuat oranglain memberikanmu kembali semangatnya. So, jadilah pribadi yang pandai memupuk diri agar lingkunganmu juga pandai berbenah diri.



If not today, then when again ....

Determine from now on!!

Minggu, 15 Oktober 2017

Ku Ingin


Gambar terkait

Memintamu dalam harap
Dalam doa yang kupanjat
Menjagamu tanpa pengap
Diujung sholat
Tanpa perlu terperanjat
Sunyi …
Sepi ….
Kubiarkan sendiri
Biarlah menjadi sebuah jalan penantian
Terkadang aku takut..
Iya aku penakut!
Aku takut takdir kita hanya bertemu
Bukan bersatu
Aku takut harap ini masih memiliki namamu
Sedangkan takdir berkata lain
Tapi ….
Ku ingin.


sumber gambar: @tausiyahcinta

Sabtu, 14 Oktober 2017

Keong Emas dan Keong Racun


Hasil gambar untuk keong mas dan keong racun
Alkisah disebuah kerajaan Daha, hiduplah dua orang putri cantik nan jelita. Dua orang putri tersebut bernama Candra Kirana dan Dewi Galuh. Kedua putri Raja tersebut hidup sangat bahagia dan serba kecukupan.

Suatu hari, datanglah seorang pangeran yang amat tampan dari Kerajaan Kahuripan. Anak seorang Prabu Airlangga ke Kerajaan Daha. Pangeran tersebut bernama Raden Inu Kertapati, yang bermaksud ingin melamar salah satu putri Kerajaan Daha yang bernama Candra Kirana. Kedatangan Raden Inu Kertapati ternyata disambut hangat oleh sang Raja, Raja Kertamarta. Yang akhirnya Candra Kirana ditunangkan dengan Raden Inu Kertapati.

Namun ternyata, pertunangan itu membuat Dewi Galuh merasa iri dan cemburu. Sebab Ia merasa bahwa Raden Inu hanya cocok bila bersanding dengannya. Oleh karena itu, Dewi Galuh mencari jalan tengah mendatangi seorang nenek sihir meminta untuk menyihir saudaranya sendiri yaitu Candra Kirana menjadi sesuatu yang menjijikan dan dijauhkan dari Raden Inu Kertapati. Kemudian nenek sihir itu menyetujui permintaan Dewi Galuh dan menyihirrnya menjadi Keong Emas lalu membuangnya ke sungai.

Suatu hari, ada seorang nenek yang mencari ikan di sungai dengan jala dan keong emas terangkut dalam jalanya tersebut. Lalu nenek itu membawa keong emas ke rumahnya dan menaruhnya diatas tempayan. Esok harinya, si nenek kembali mencari ikan ke sungai dengan jalanya  tetapi tak mendapatkan seekor pun ikan. Akhirnya si nenek memutuskan untuk pulang saja, namun amat kaget sekali waktu ia melihat dimejanya tersedia makanan yang banyak dan tentu enak-enak. Si nenek menjadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sipaa gerangan yang telah mengirimkan makanan sebanyak ini.

Keesokan harinya lagi, si nenek seperti biasa pergi ke sungai seakan memang sudah menjadi ritualnya tiap hari. Namun ternyata ia mengalami hal yang serupa pula. Lalu kembali ia putuskan untuk esok harinya ingin mengintip apa yang sudah terjadi dengan tetap berpura-pura pergi ke sungai, sementara ia sembunyi dibelakang rumahnya untuk mengintip. Setelah beberapa saat, si nenek sangat terkejut sebab keong emas yang ada pada tempayan itu ternyata dapat berubah wujud menjadi seorang gadis yang amat cantik. Gadis itu pandai memasak dan menyiapkan masakan tersebut dimeja. Karena merasa penasaran, akhirnya si nenek memberanikan diri keluar dari persembunyiannya dan menegur putri cantik itu “Siapakah kamu ini wahai putri Cantik? Dan dari mana asalmu?  Mengapa engkau berubah demikian?” Tanya si nenek “Aku adalah anak seorang Raja dari Kerajaan Daha yang disihir oleh saudaraku Dewi Galuh karena merasa iri dan cemburu terhadap diriku”. Jawab keong emas terus terang. Setelah menjawab pertanyaan si Nenek, Candra Kirana berubah kembali menjadi keong Emas.

Disisi lain, Pangeran Inu Kertapati tidak ingin tinggal diam ketika mengetahui bahwa Candra Kirana telah menghilang. Ia pun segera mencari dan menyamar sebagai rakyat biasa. Namun ternyata, nenek sisir itu pun mengetahui penyamaran sang Pangeran. Sehingga mengubah dirinya menjadi seekor burung gagak untuk mencelakakannya.

Waktu itu jua, Raden Inu Kertapati terheran-heran sekaligus kaget. Mana mungkin ada seekor gagak yang pandai berbicara dan mengetahui tujuannya. Namun ternyata nenek sihir itu berhasil merubah fikirannya, sang Raden pun akhirnya menganggap bahwa burung gagak itu adalah burung yang sakti dan bisa menurutinya padahal burung gagak itu memberikan arah jalan yang salah. Diperjalanan itu, Raden Inu bertemu dengan seorang Kakek yang sedang kelaparan lalu diberinya ia makan, ternyata sang kakek adalah orang yang sakti jua. Ia menolong Raden Inu Kertapati dari burung gagak itu. Ia membunuh burung  gagak itu dengan tongkatnya dan burung itu pun menjadi asap. Hingga akhirya Raden Inu Kertapati diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya sang Raden pergi ke sebuah desa Dadapan.


Saat itu pula, Raden Inu mulai berjalan ke desa itu hingga berhari-hari. Setibanya disana, Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya telah habis. Namun Ia sangat terkejut, karena dibalik bilik jendela Ia melihat Candra Kirana, tunnagannya sedang memasak. Hingga keduanya berjumpa, hilang pula sihir dari nenek sihir itu.

Akhirnya Raden Inu Kertapati memboyong Candra Kirana dan si nenek yang sudak  baik hati menjaga Candra Kirana ke Istana. Candra Kirana pun menceritakan perbuatan Dewi Galuh pada Ayahanda Baginda Kertamarta. Sang Ayah akhirnya meminta maaf terhadap Candra Kirana dan mengutuk Dewi Galuh menjadi Keong Racun.

Hasil gambar untuk keong racun Ia terbuang ke sebuah sungai, kembali terangkat jala. Namun karena semua orang tahu membedakan mana keong yang enak dimasak dan mana yang beracun, akhirnya Dewi Galuh terbuang kembali dan selalu terbuang karna beracun. Tidak hanya beracun saat dimakan, tapi menyetuhnya saja sudah beracun. Ia kini  sendiri, tak ada satupun yang menemanimanya. Jangankan manusia, para ikan pun tidak ingin mendekatinya. Selamanya ia akan tetap jadi keong racun, keong yang terbuang tanpa pernah kembali menjadi seorang gadis biasa apalagi anak gadis dari seorang Raja. Malangnya nasib sang putri, menjadi Keong Racun hingga ia menemukan cinta sejatinya. Sementara Candra Kirana menikah dengan Raden Inu Kertapati dan hidup bahagia.





sumber gambar: agrobisnis.com, avatarcube.com


*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan III, ODOP batch 4

Jumat, 13 Oktober 2017

Teruntukmu (The Rain)


Hasil gambar untuk tulip
Teruntukmu ….
Yang melukis cinta,
Menyibak ego tuk bersama
Menahan sendu sedih air matamu
Yang kau sembunyikan bersama senyum

Teruntukmu ….
Yang mewarnai kasih,
Menyimpan memori,
Mengenang harap,
Yang kulukai dengan egoku

Masih bisa ku tersenyum untukmu
Kala hatimu mungkin meringis melepasnya
Masih bisa ku bercanda denganmu
Kala dirimu mampu meninggalkanku

Ku tersadar …
Cintamu takkan pernah mungkin membebaskannya
Bagaimana mungkin?
Ia akan meninggalkanmu
Sementara dirimu
Satu-satunya cinta yang singgah

Teruntukmu …
Yang meninggalkan kenangan
Mungkin hatimu terluka
Kala cintamu harus terpisah karna egoku
Kala rindumu harus terhalang harapku

Entah ….
Entah harus berkata apalagi
Ku menyusuri lorong waktu itu,
Seharusnya aku mengerti
Cintamu tak pernah untukmu

Tapi kini ….
Ku nikmati waktu tuk mengerti
Membuka hati,
Memahami takdir
Keegoisan takkan pernah bertemu dengan cinta
Teruntukmu ….
Bersama Tulip merah
I will love you endlessly …

The Rain #The End





***
Hasil gambar untuk MENINGGALKANMu
"Pagi mah ...." Sapa Angel ramah
"Pagi juga sayang" Menyambutnya dengan hangat
"Hari ini aku pulang cepet kayanya Mah" Sambil mengambil susu
"Iya sayang"
"Yaudah aku langsung berangkat ya Mah" Langsung berlari kecil
"Kamu gak sarapan dulu" Teriak Mamah Angel
"Aku buru-buru Mah" Jawab teriak Angel
"Yasudah hati-hati di jalan Nak"
Tanpa jawaban, sebab Angel telah berlalu jauh

Pagi itu, suasananya sejuk sekali. Dinginnya merasuk pada pori-pori kulit menyamarkan kelembutan. Seperti biasa, Ia tak pernah lupa untuk membeli bunga tulip merah dekat danau. Tapi entah kenapa, kali ini si Adik kecil itu tak lagi jualan disana. Ia menyusuri perlahan jalanan danau, matanya mengarah ke kanan ke kiri mencari si Adik, tapi tak jua bertemu lalu Ia putuskan untuk berlalu dan beranjak pergi saja ke kantornya.



Seperti biasanya, Ia terlebih dahulu pergi ke makam sahabatnya, Dista. Sebelumnya akhirnya memutuskan pergi ke Kantor tanpa bunga tulip merah. Ia melajukan mobilnya ke TPU -Tempat pemakaman Umum-. Setibanya disana, Ia menyusuri jalanan makam dengan pelan. Sesekali matanya melirik kearah kanan dan ke kiri lalu memandang ke depan, seketika langkahnya terhenti melihat ada sesosok lelaki yang tengah berada dimakam sahabatnya, ia semakin penasaran tatkala sosok itu seperti tidak asing untuknya, langkahnya kini semakin mendekat. Ia semakin tak asing untuknya "Seperti Evan, tapi dia masih di Aussie" Pikinya dalam benak. Saat ia melangkahkan kakinya satu langkah, Ia mendengar lelaki itu berucap "Aku gatau Dista, harus seperti apalagi caraku untuk melupakanmu. Kamu masih dihatiku, sedangkan engkau kini telah jauh tinggalkan aku. Dista ... Kamu pernah buat aku merasakan manisnya hidup, tapi kini aku gentir kehilanganmu" Tangisnya mulai turun diatas batu nisannya.

Saat itu pula, ada Angel tepat dibelakangnya menahan tangis menutup mulutnya, seakan tak percaya bahwa kekasihnya begitu mendamba terhadap Dista.
"Dis ... Kehilanganmu menyakitkan, kamu berjanji untuk sembuh. Tapi kenapa kamu tinggalin aku sendiri. Dista ... Maafkan aku, maafkan aku karna tak bisa untuk terus mencintai Angel" Matanya semakin sendu, tangisnya semakin tak kuat untuk ditahan.
Angel pun semakin terkejut dengan kejujuran yang tak sengaja Ia dengar, ia semakin lemah "Jadi selama ini, dia sayang sama Dista dan Dista ..."  Tangisnya semakin menjadi, saat itu hatinya hancur. Ia memilih untuk mundur dan menjauh darinya, sebab kenyataannya begitu menyakitkan.


Ia beranjak tinggalkan Evan yang masih disana dekat makam sahabatnya. Ia menangis didalam mobilnya, lalu ia melajukan mobilnya kembali kearah rumah.

"Bruuug ..." Suara tasnya terjatuh, mengagetkan Mamahnya yang waktu itu sedang menonton TV dan Ia tak peduli, memilihnya untuk berlari ke kamarnya
"Angel ...." Teriak sang Mamah "Kamu gak jadi ke Kantor?"
Mamahnya hanya mendengar suara tangisnya.
"Ada apa ya Bi, kok dia datang-datang menangis kaya gitu?" Tanya Mamah Angel ke Bibi, heran.
"Saya kurang tau Nya -Nyonya-" Jawab bibi polos
Tanpa fikir panjang, akhirnya Mamahnya segera menyusul kedalam kamarnya. "Sayang kamu kenapa?"
Hanya terdengar isak tangisnya
"Angel ... Buka pintunya sayang, Mamah boleh masuk"
"Aku gapapa Mah" Jawab Angel menguatkan diri
"Kalo kamu gapapa, berarti mamah boleh masuk"
"Gak Mah, aku mau sendiri dulu"
"Angel ...." Pinta sang Mamah
"Iya Mah" Jawab Angel membukakan pintu
Mamahnya langsung memeluknya, mengelus rambutnya dengan lembut dan membawanya duduk diatas ranjang. Tangis Angel kembali pecah, semakin menjadi.
"Tak apa kalo kamu gak mau cerita, tapi inget sayang ... Mamah tau apa yang kamu rasakan, jadi jangan sembunyi dari Mamah" Berusaha menenangkan.
Akhirnya Ia pun memilih menceritakan semuanya kepada sang mamah.
"Sayang ... Ketahuilah, bahwa Dista menyimpan semuanya dari kamu karena dia gamau persahabatan kalian rusak hanya karna egonya. Dia tau, kalo kamu mencintai Evan. Dia merelakan Evan untukmu, sebab apa? Karena dia tahu, dia tidak akan lama lagi untuk hidup. Dia juga tidak mau menyakiti Evan terlalu jauh. Jadi sayang, semuanya semata demi persahabatan kalian" Mamahnya memeluk Angel erat "Jadi sekarang, kamu ngerti?"
"Tapi Mah ..." Angel mengelak
"Sayang ...."
"Iya, aku ngerti Mah"
Angel memeluk Mamahnya erat, menghabiskan tangisnya tanpa sisa.
Ia kembali ingat tulisan di buku itu "Terkadang cinta juga perlu mengikhlaskan dan berkorban untuk orang lain, meski tak mampu". Sekarang ia mengerti apa maksud kalimat itu.


Kini, ia menghabiskan waktu itu dikamarnya. Menikmati kisah-kisahnya yang pernah lalu bersama Evan kekasihnya yang mencintai sahabatnya, dan tentang sahabatnya, Dista. Merenungi setiap moment-moment yang pernah dilewati bersama sembari membuka lembaran-lembaran foto yang sengaja Ia simpan pada album miliknya. Ia menghiraukan Evan, membiarkannya melakukan yang Ia mau. Begitupun dengan Angel, kembali menata hati hingga Ia sadar bahwa "Keegoisan takkan pernah menemukanmu dengan cinta" dalam hatinya "Teruntuk Evan, terimakasih pernah bersamaku menjadi kekasih yang yang selalu ku damba, dan Dista ... Terimakasih sudah mengajarkan aku, untuk tidak egois. Cintamu mengajariku, bahwa persahabatan bukanlah penggadaian cinta" Tak lupa, bunga tulip merah yang menandakan keabadian cinta. "Aku sayang kalian" Memeluk fotonya dengan tangis haru.



Selesai.



sumber gambar: google.co.id

Kamis, 12 Oktober 2017

The Rain #3

Pukul 19.15 WIB. Tiba di rumah.


"Mom .... I Home" Teriak Angel

Seorang asisten rumah tangga menghampiri "Eh non Angel, sudah pulang. Mau bibi bantu bawakan tas nya non?" Menawarkan bantuan.
"Tidak usah bi, terimakasih" Tersenyum "Mamah mana ya Bi" Lanjutnya
"Tadi pergi keluar non, katanya mau ikut kajian di Masjid sebelah" Jelasnya
"Oh gitu ya"
"Non Angel mau saya buatkan apa, nanti saya antar ke kamar"
"Seperti biasa aja deh bi"
"Baik non"
Angel pun mulai melangkah ke kamarnya.


Selepas membersihkan diri, ia duduk depan meja belajarnya merapihkan tiap-tiap buku yang berserakan dan disusunnya berjajar rapih. Tak sengaja ia menemukan sebuah buku yang berjudul The Rain, buku yang paling disukai Dista, sahabatnya. Ia membuka lembar demi lembar setiap buku itu, dan memahaminya kembali mengikuti jejak tulisan Dista yang tertinggal disana. Kini matanya mulai berbinar haru, ia merasakan bahwa Dista masih menggenggamnya erat. Tiba-tiba seorang asisten rumah itu pun datang mengetuk pintu kamar dan memecah lamunnya.

"Tok ... Tok ... Tok ..." Suara pintu diketuk "Non Angel makanannya sudah siap, boleh bibi masuk?" Pintanya
Angel mulai menyibakkan air mata dipipinya. "Masuk aja bi, pintu gak Angel kunci"
Lalu Bibi masuk dan menaruh makanannya dekat meja belajarnya lalu bergegas kembali pada pekerjaannya.


Angel kembali melanjutkan membuka lembar-lembar bukunya, seketika matanya tak henti-henti melihat tulisan yang bertuliskan ... "Terkadang cinta juga perlu mengikhlaskan dan berkorban untuk orang lain, meski tak mampu" Ia membaca berulang-ulang mencoba memahami setiap katanya. Namun, nampaknya Ia masih saja tak mengerti. "Ah mungkin tentang si buku ini" Gumamnya dalam hati.



Ia kembali mengambil sebuah album kecil, sebuah album foto tentang dirinya, tentang  Evan, juga Dista. Tentang hujan dekat danau, tentang Dista dengan bunga tulip merahnya, tentang foto Evan yang sengaja dia simpan. Ia mengamati satu per satu foto itu, melihat sisi matanya yang penuh tawa. Ia sejenak menyadari tatapan tajam Evan tertuju begitu mesra terhadap Dista bukan terhadap dirinya, yang jelas Ia tahu bahwa dirinya begitu mencinta. "Ah sudahlah, mana mungkin sahabatku sendiri mau merebut pujaanku. Dia kan tau aku menyayanginya. Lagian sekarang, Dista juga udah gak ada" Pikirnya. Ia kembali melanjutkan membuka album itu "Aku sayang kalian semua" Tutupnya dengan senyum rindu memeluk erat album itu.



"Rinai hujan basahi aku .... " Suara telefonnya berbunyi. Tanpa basa basi Ia mengangkatnya karena Ia tahu, pasti dari sang kekasihnya.

"Hi Bee" Suara manja Angel memulai pembicaraan
"Hi juga Bee. Cepat sekali. Sudah menanti telefon ku yaah?" Jawabnya becanda disambung tawa "Hhahaha"
"Apa sih kamu" Menangkasnya "Kerjaan kamu udah selesai?"
"Iya gitu deh" Jawabnya singkat
"Lalu kapan kamu balik ke Indonesia?" Tanya Angel sambil berjalan mendekati jendela kamar memandang langit malam
"Emmm ...." Terdiam sejenak "Dengan segera Bee"
"Cepatlah pulang Bee aku rindu" Jelasnya
"Siap Komandan sayang"
Lalu menutup telefonnya.



Bersambung


Selasa, 10 Oktober 2017

The Rain #2

Gambar terkait

Setibanya disebuah pemakaman umum.
"Dis ... Aku dateng" Bicaranya depan batu nisan "Aku bawa bunga tulip merah ini buat kamu, semoga kamu suka yah" Sembari menaruh dua tangkai bunga disisi batu nisannya "Dis ... Aku kangen kamu, aku rindu bawelnya kamu, ocehannya kamu, rempongnya kamu dan pastinya nasehat-nasehat kamu" Terdiam "Dista ... Dua bulan kepergianmu, mengubah semua kehidupanku. Aku kembali sendiri, tidak ada lagi yang mau mendengarkan ocehanku" Air matanya semakin tersedu "Tapi Dista ... Kamu tau, Evan kini telah menjadi kekasihku. Dan aku begitu mencintainya seperti yang kamu tau. Dista tenanglah bersama keabadian dirimu, aku menyayangimu tidak hanya sekedar sahabat melainkan sebagai saudaraku" Mengusap air matanya "Dista ... Aku akan sering menengokmu kembali kesini, berbahagialah disana sayang bersama cintaNya".
Lalu ia mulai berlalu.


***



Pukul 07.45 WIB. Tiba di Kantor

Ia segera masuk ruangannya dan mengganti bunga yang berada dimejanya dengan bunga tulip merah yang tersisa satu tangkai tadi. Ia selalu melakukan itu setiap hari Senin, selepas dari makam sahabatnya. Ia selalu menempatkan bunga itu tepat diujung meja kerjanya sebagai tanda bahwa ia selalu bersama Dista, sahabatnya. 


"Pagi Angel" Sapa Mila rekan kerjanya

"Pagi juga Mil" Senyumnya sedikit memudar
"Angel? Are you okay?" Mila menghampiri memegang pundak Angel
Ia hanya mengangguk, sesekali memegang punggung tangan mila dengam sedikit senyum yang dipaksa
"Aku tau Ngel" Mencoba memalingkan muka Angel kearahnya
Seketika tubuhnya reflek memeluk Mila erat
"Aku juga kehilangan, kita semua kehilangan. Bukan cuma kamu. Dia wanita kuat, dia wanita yang tangguh"
Tangisnya semakin tersedu hingga segukan
"Angel ... Kamu ingat? Dia selalu bisa menyembunyikan sakit dan sedihnya depan kita, lantas kenapa kita terus-terusan menangisi kehilangannya. Iya aku tau, kamu memang yang paling dekat dengan Dista ... Coba ingat kembali Ngel, dia tak suka melihatmu bersedih apalagi terus-terusan menangis" Memeluk erat tubuh kecil Angel berusaha tuk menenangkan
"Aku cuma sedang rindu Mil"
"Berdo'alah ... Dengan seperti itu rindu mu akan terobati"
Angel mengangguk, menyudahi tangisnya. Dan perlahan mulai melepaskan dirinya dari pelukan Mila. Mila pun mengusap air matanya dan juga air mata Mila.


Setelahnya, semua berjalan seperti biasa. Angel kembali bekerja meski sesekali Ia memandang pas foto dekat vas bunganya bergambarkan dirinya, Evan, juga sahabatnya, Dista. Ia mengusap setiap sudut pas foto itu, seakan-akan terpenuhi debu. Sesekali bergumam "Aku bahagia punya kalian berdua. Sahabat terbaik, dan seorang pacar terbaik yang aku sayang" Senyumnya kembali



Kemudian Ia melirik jam tangannya menandakan waktunya jam makan siang dan langsung tersadar bahwa waktunya dengan waktu Evan sudah diatur sebelumnya biar sama. Singkatnya, biar tetap sama dalam satu waktu. Ia mulai sibuk mencari handphonenya, dan seakan mengingat-ngingat nomor telefonnya

"rinai hujan basahi aku ....
Temani sepi ...." Suara telfon masuk
"Hi, bee" Jawab Angel dengan cepet "Kok kita samaan sih"
"Samaan apa Bee?" Tanyanya semakin heran
"Aku baru aja nyari-nyari HP buat ngehubungi kamu, eh kamu malah duluan" Dengan manja
"Iya dong Sayang. Aku hafal kok, makanya aku duluin. Hehe"


Mereka tetap melanjutkan telfonnya dengan asyik, tak lagi terlihat sendu pada matanya. 



Bersambung ....




Sumber gambar: Kompasiana


One More

“Dek, dengarkan ini.” Ucapnya. Lalu aku terdiam, tunduk mendengarkan. Bukan terkadang membahas rasa, tapi ia tak pernah berhent...