Dulu ...
Saat pertemuan yang dinanti telah saling menemui.
Aku bagai anak lilin yang lahir dari sisa perciknya.
Kemudian,
Ada secercah rasa yang menawarkan indahnya.
Akupun terpaut.
Manis, manja tutur katanya.
Iya, aku mulai terpesona.
Pada malam yang kurasa tak lagi kelam.
Pada lirihnya yang tak lagi hening.
Dan pada senja,
Yang kini saling mengadu warnanya.
Namun ..
Pada akhir ini, ku tahu.
Itu hanya dahulu.
Saat tanganku kembali terulur menyadarinya.
Semua kembali menjadi seperti sediakala.
Aku tahu.
Aku pernah mengagumimu sebegitu dalamnya.
Mengharapmu sebegitu besarnya.
Dan merindumu sebegitu beratnya.
Tetapi kan ku akhiri.
Ku akhiri kisah yang pernah ada.
Membiarkanmu menjadi abu kenangan.
Aku berhenti mengagumi.
Aku berhenti bersedia menawarkan hatiku.
Bukan atas hadirnya.
Hanya ....
Aku merindumu lebih dari apapun.
Namun, kau mengubahnya menjadi kepingan.
Yang kini, tak mampu lagi kusatukan secara utuh.
Aku kecewa, menikmatimu dalam diamku.
Aku kecewa, mempercayakan hatiku dalam genggammu.
Aku kecewa, tatkala kau ubah kata menjadi ejaan yang kau urai.
Padahal jelas, hal itu telah ku rangkai dengan susah payah
Aku semakin kecewa, karna kemarahan ...
Benci dan kemuakan.
Tak mampu terlampiskan.
Sementara kau selalu berkata, "Hanya aku."
Bagaimana mungkin?
Jujur, ku kecewa.
Jangan melihat kebelakang untuk mencaci kenangan. Berjalanlah dan lakukan yang terbaik saat ini.
Sabtu, 09 Desember 2017
Jumat, 08 Desember 2017
Pekatnya sebuah Harap
Andai waktu tak pernah memberiku kesempatan mengenalimu lebih jauh, tak ku taruhkan hati ini lebih dalam.
Biar ia cukup berada dalam pintu harap yang ku yakini, cukup sampai disini. Namun sekali lagi, kau bentangkan gerbang harap itu yang akhirnya membuatku masuk lalu terjebak menikmatinya.
Andai? Jika?
Ku sesalkan dengan tawar yang kau sanjungkan. Tapi yaa sudahlah, sesal takkan mengembalikan hati yang rapuh karna harapku padamu.
Mungkin harapku telah pupus, anganku telah patah, sementara inginku masih saja tak mampu ku bendung.
Terbelunggu oleh setiap kata yang terangkai pada sebuah kalimat syahdu yang keluar dari bibirmu. Inginku lepas, sebagaimana singgasana penantian diluar sana.
Namun masih saja, aku dibuai rasa yang semakin berkalut menggrogoti nadiku. Aku pun tak kuasa menyalahkan pertemuan, lalu menyudutkan rasanya.
Aku hanya penikmat kepekatan dari sebuah harap bernama Milikmu.
Kamis, 07 Desember 2017
Dalam Harap
Seuntas tawa yang manyamai sebuah kehadiran, bagai imajinasi-imajinasi khayal yang terfikirkan.
Iyah, bernamakan dirimu sebuah harap. Melalui rindu nan indah, yang terciptakan pada sebuah Do'a penuh angan.
Kini ku menyusuri lorong waktu yang diberikan kesempatan tuk bersua dengan manisnya. Meski rencana demi rencana diujung tombak harapan.
Tak ingin ku tarik diriku ke belakang, untuk menyerah dalam harapanmu. Meski maju tak memberiku jawaban atas waktumu. Tak apa ku memilih terdiam, sebab sebagaimanapun, menikmatimu dalam diam adalah ruang bahagia untukku.
Tak ingin ku sesalkan, meski kini ku terjerat dalam candu harapku padamu. Biarlah ia bersemayam bersamamu, meski diriku tak lagi berarti setelahnya.
Iyah, bernamakan dirimu sebuah harap. Melalui rindu nan indah, yang terciptakan pada sebuah Do'a penuh angan.
Kini ku menyusuri lorong waktu yang diberikan kesempatan tuk bersua dengan manisnya. Meski rencana demi rencana diujung tombak harapan.
Tak ingin ku tarik diriku ke belakang, untuk menyerah dalam harapanmu. Meski maju tak memberiku jawaban atas waktumu. Tak apa ku memilih terdiam, sebab sebagaimanapun, menikmatimu dalam diam adalah ruang bahagia untukku.
Tak ingin ku sesalkan, meski kini ku terjerat dalam candu harapku padamu. Biarlah ia bersemayam bersamamu, meski diriku tak lagi berarti setelahnya.
Selasa, 05 Desember 2017
Ketika Rindu tersalip sesal
Detik waktu terus berlalu, sementara aku masih saja menangisi kehilangan...
Mereka mungkin tak pernah tahu, tentang sebuah sesal yang menyelinap rongga dada...
Tentang jutaan rasa, yang tak bisa digambarkan asa...
Atau bahkan, tentang rindu yang menghantui seperti malam diufuk timur lautan...
Aku masih saja menyusuri malam, dibawah benderangnya purnama...
Bersama menanti di antara rasi-rasi bintang yang terlukis...
Menjadi bagian yang dicapai atau pun mencapai...
Aku?
Aku masih saja sama ...
Terdiam tak bergeming, tinggalkan sebuah tanya...
Yang membalut bayang sesal sebuah kenangan
Mereka mungkin tak pernah tahu, tentang sebuah sesal yang menyelinap rongga dada...
Tentang jutaan rasa, yang tak bisa digambarkan asa...
Atau bahkan, tentang rindu yang menghantui seperti malam diufuk timur lautan...
Aku masih saja menyusuri malam, dibawah benderangnya purnama...
Bersama menanti di antara rasi-rasi bintang yang terlukis...
Menjadi bagian yang dicapai atau pun mencapai...
Aku?
Aku masih saja sama ...
Terdiam tak bergeming, tinggalkan sebuah tanya...
Yang membalut bayang sesal sebuah kenangan
Sabtu, 02 Desember 2017
Berhenti Berharap (The End)
sumber gambar: project heal
Sang ibunda pun membelai
rambutnya. “Sayang, ada yang perlu kamu tahu bahwa sebuah persahabatan yang
sejati mengajari kalian untuk saling mengisi dan memaklumi satu sama lain.
Menurunkan ego, meski terkadang salah satunya harus merasakan sakit.” Jelasnya.
“Maksudnya, Mah?” ia mulai tak
paham dengan perkataan sang ibunda.
Mamahnya pun tersenyum. “Sayang,
mamah sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi di antara kalian. Tapi mamah
yakin, anak mamah yang satu ini, masih punya hati untuk memberinya kepercayaan
setidaknya izinkan Diana tuk memberi alasannya.”
Ia tercenga, bagaimana mungkin
sang ibunda tahu dalam fikirnya. “Mamah.” Air matanya mulai menetes. “Maafin
kakak.”
“Kamu tak perlu meminta maaf sama
mamah. Yang perlu kamu lakuin sekarang adalah memperbaiki hubungan kalian.”
Jelasnya yang kemudian memegang pipi anaknya.
“Jadi?”
Ibundanya mengangguk. “Tunggu
apalagi?”
Ia pun menyunggingkan bibirnya.
“Boleh, Mah?” tanyanya meminta kepastian.
Ibu Erita pun mengedipkan
matanya.
“Makasih mamah.” Lalau memeluk
erat tubuh sang Mamah dan menciumnya.
“Udah ah. Sana gih cepat-cepat
beresin bajunya.” Jelas sang mamah.
Ia pun segera menuju kamarnya,
mengambil beberapa potongan baju untuk ia bawa menyusul Diana ke Bandung.
***
Bandung.
Setibanya
di Bandung, ia mencari alamat yang dikasih oleh ibu kostnya Diana. Bertanya
sana sini, dengan menggendong tas ranselnya. Seperti orang hilang, nyalinya hampir
membuatnya putus asa mencari alamat tempat tinggal Diana.
Namun kemudian, tekadnya masih kuat
demi memperbaiki hubungannya dengan Diana yang akan mengembalikan lagi hubungan
semua orang.
Tiba-tiba
saat ia berjalan, ia menemui sesorang yang seperti ia mengenalinya. Ia pun
memanggilnya dan ternyata benar, ia adalah sahabatnya Diana.
Diana
pun menolehnya, antara percaya dan tak percaya. Sahabatnya menyusulnya ke
Bandung.
“Lusi!”
jawab ia, yang kemudian berlari menemuinya lalu memeluknya hangat. Suasana haru
terasa, tatkala Lusiana meneteskan air matanya.
“Maafin
aku yah, An. Aku mungkin terlalu egois, sampai aku gak peduli sama alasan
apapun kamu.” Jelas ia dengan sesal.
Sahabatnya
pun menghapus binar air matanya. “Sudahlah Lus, kamu gak salah apa-apa.
Harusnya aku yang minta maaf, karna udah bikin kamu kecewa.”
“Sudahlah,
kita lupakan semuanya mulai sekarang, An. Kamu tak perlu menjelaskkan apa-apa,
Mamah sama Rini sudah ngejelasin semuanya. Maafin aku yah.”
Mereka
pun saling memeluk satu sama lainnya, memberikannya kembali kepercayaan yang
sempat rusak. Saling meminta maaf dan memperbaik hubungannya.
Tak
lupa pula, ia menjelaskan perjalanannya dari Jakarta-Bandung kepada Diana, dan
meminta penjelasannya mengenai alasannya pulang kampung.
Diana
pun menjelaskannya. Kini kedua sahabat itu pun kembali seperti dulu, saling
berbagi dan bercerita.
Epilog.
Jakarta,
satu bulan kemudian.
Dear diary,
Waktu begitu cepat belalu, setelah
terakhir ku menemui Diana di Bandung. Kini aku lebih sering menyendiri namun
tak membuatku merasa seorang diri. Aku mungkin tak lagi menemukan dirimu pada
sosok yang lain. Tapi percayalah Diana, persahabatan kita akan tetap terjalin,
setidaknya meski kita telah terpikat jarak.
Bukan, bukan jarak yang memisahkan kita seperti beberapa kejadian lalu
melainkan jarak antara kota Jakarta dan Bandung kotamu.
Iyah, selepas kamu memutuskan untuk
pindah kuliah di Bandung demi menjaga adik-adikmu dan amanah yang diberi ibumu
selepasnya meninggal, semuanya memang berubah. Sikapku atau hal apapaun
mengenai sikap kekanak-kanakanku. Terimakasih, karna kamu telah mengajarkanku
tentang sebuah sikap yang dewasa dan kesejatian seorang sahabat.
Oh ya Diana. Aku dengar, setelah
menjadi lulusan terbaik dari kampus kita, Kak Handy kini melanjutkan study S2
nya di Ausie, namun begitu ia tetap membantu bisnis keluarga Rini. Sementara
Rini, kabar terakhir yang aku dengar kini ia telah menikah muda. Ia menikah
dengan lelaki bernama Ian, lelaki yang sempat membuatnya kecewa. Namun karena
kesungguhannya melepas belenggu itu, dalam kepasrahannya lelaki itu datang dan
langsung meminangnya. Kini ia kembali ke
Canada mengikuti suaminya, dan melanjutkan kuliahnya disana.
Ah Diana, ada banyak hal yang telah
terjadi dalam sebulan terakhir ini dan kau tak ada disini. Semunya menjadi
berbeda tanpamu dan tanpa Rini. Tapi aku akan mencoba menjalaninya setahap demi
setahap. Seperti kata Rini dulu: Jika sebuah pengharapan mengikis waktumu, maka
biar ikhlas yang terus berjalan mengembalikan harapan itu menjadi lebih baik.
Sebentar lagi libur semesteran tiba,
tunggu aku kembali kesana ya Ana.
Love,
Lusi
Lusiana
pun menutup buku diarynya dan menaruhnya di bagian buku-buku kuliahnya. Sekilas
tatapannya jatuh pada pigura besar berisi foto-foto orang terdekat di hatinya.
Diana, Handy dan juga Rini. Dibelainya satu per satu wajah di dalam pigura itu.
“Terimakasih karena telah mengajarkan aku untuk menurunkan egoku, yang telah
mengajariku banyak hal untuk jauh lebih baik lagi. Love you all!”
Tamat.
Berhenti Berharap (Part 14)

Sementara Diana, kini ia berada di sebuah
rumah sakit besar di kota Bandung. Bukan, bukan ia yang sakit. Melainkan
ibunya, yang dirawat akibat kanker paru-paru yang menyerangnya satu tahun
lalu. Ia pun kini menggantikan peran
ibunya sementara, menjaga adik-adiknya. Sementara sang ayah, ia pergi bersama
pilihannya sekitar delapan tahun lalu yang meninggalkan dirinya dan adiknya
bersama sang ibu, Ia mengurus semua keperluan adik-adiknya hingga sampai dokter
mengatakan bahwa ibunya sudah baik-baik saja untuk pulang. Beruntungnya, ia
adalah salah satu mahasiswi yang pintar sehingga ia kuliah mendapat beasiswa
full.
Lusiana
termangu sebentar, di liriknya tempat duduk sahabatnya tepat di kursi belakang
tempatnya. Ia melirik diam, lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah luar
kelas. “Diana, kemana yah. Kok tumben gak
masuk.” Gumamnya dalam hati.
Namun,
meski begitu ia masih saja diam, seakan benar-benar tak peduli. Jam kelas pun
telah usai, ia memilih langsung pulang ke rumahnya. Saat ia bejalan disebuah
lorong kampus, ia melihat lelaki itu, iya lelaki yang sama yang ia lihat
pertama kali di lorong. Iya, dia Handy. Lelaki itu tengah berdiskusi dengan
salah satu dosen pembimbingnya.
Diliriknya lelaki itu,
memerhatikannya kembali seperti pertama sesaat ia belum tahu nama lelaki itu. Namun,
Handy pun menyadari jika ada seseorang yang tengah memerhatikannya. Ia pun
meliriknya yang membuat Lusiana menjadi salah tingkah, ia pun kemudian
menundukkan kepalanya. Namun kemudian, lelaki itu mengalihkannya kembali ke
arah sang dosen, lalu memilih beranjak dari tempat itu meninggalkkan dirinya
tanpa sapa.
Ia menyadari, bahwa kini lelaki
itu menjadi bersikap sangat dingin terhadap dirinya. “Apakah dia membenciku?.” Ujarnya dalam hati yang tersalip bersama
sesal.
Hari itu pun berlalu, dengan tak
banyak cerita. Keesokan harinya, seperti
biasa ia memulai paginya dengan semangat baru. Namun, hal yang sama juga
terjadi. Hari kedua dimana sahabatnya tak masuk kuliah lagi, ia kini mulai
sedikit khawatir. Sebab sepanjang tiga semester lalu bersamanya, ia tak pernah
absen kuliah tanpa alasan yang jelas, ia
mulai menanyakan kabarnya melalui teman-teman kelasnya yang lain. Hari itu pun
ponselnya susah sekali tuk dihubungi, namun hasilnya juga sama tetap nihil.
Ia kembali mengingat-ngingat dan
menimbang-nimbnag yang telah Rini beri tahu sebelumnya. “Apa aku salah yah? Kenapa dengan mudahnya menyimpulkan begitu aja
Lusi. Sementara lu bersahabat dari semenjak masuk kuliah.” Ia memaki
dirinya, kesal sendiri. Tanpa berfikir panjang lagi, akhirnya ia memilih untuk
izin tidak mengikuti kampus sampai selesai, memilih untuk mencari tahu tentang
sahabatnya.
“Gi, ijinin aku yah. Kurang enak
badan nih.” Pamitnya ke Anggi, salah satu teman kelasnya.
“Siap Lus, cepet sehat lagi yah.”
Jawabnya.
Ia pun segera mengambil tasnya,
dan dikaitkan langsung ke bahunya lalu beranjak pergi menuju kost-an Diana.
Setibanya disana, ia mengetuk
pintu kost-annya. Tak ada suara. Ia pun tak henti mengetuk dan memanggil
namanya. Namun, masih saja diam. Tak lama berselang waktu, ibu kostnya
menghampiri.
“Cari siapa neng?”
Ia pun menoleh ke arah suara.
“Anu bu, orang yang ngekos di kostan nomor tujuh ini kemana ya bu?” tanya ia
sembari menoleh ke pintu kostnya Diana.
“Oh, Diana yah?” ibu kostnya pun
menyadari.
Ia mengangguk mengiyakan.
Ibu kost itu pun mendekat ke arahnya.
“Sudah dua hari ini, Diana pulang kampung neng. Waktu itu terlihat buru-buru
sekali.” Jelas ibu kost. “Ada yang bisa ibu bantu?”
Ia diam sejenak. “Pulang
kampung?” tanyanya lagi. “Ke Bandung, maksud ibu?”
“Iya ke Bandung, Neng.”
Ia lama terdiam, sempat terbesit
dalam hatinya sebuah pertanyaan. “Ada apa
dengan Diana, yah? Apa aku yang udah keterlaluan, ngediemin dia?”. Hatinya
pun seolah terus mengutuk akan kesalahan dirinya terhadap Diana. “Ibu tahu,
alamatnya yang di Bandung?”. Tanya Lusiana yang kekhawatirannya semakin
membara.
Ibu kostnya pun mulai
mnegingat-ngingat. “Bentar ya neng ibu coba carikan di data penghuni kost.”
Jelasnya yang kemudian berbalik arah mencari data penghuni kost.
Lusiana pun mengangguk dan
bersabar menunggunya. Sesekali ia melirik jam tangannya, perasaannya semakin
membuncah.
Kemudian sang ibu kost itu pun
kembali dengan secarik kertas di tangannya, membawakan alamat tempat tinggal
Diana di Bandung. Perasaan Lusiana pun sedikit lega dengan didapatkan alamat
rumahnya. Ia pun sanngat berterimakasih lalu berpamit pergi dari tempat kost
itu.
Setibanya di rumah, ia terkulai
lemas. Lalu menemui sang ibunda.
“Mah …” Ia menghampirinya dengan
suara yang purau.
“Loh, kakak kenapa?” tanya sang
ibunda.
“Diana pulang ke Bandung.”
Jelasnya.
“Terus?”
“Mamah, apa dia marah sama kakak
yah? Gegara kakak diemin dia beberapa hari terakhir inih?”. Jelasnya sedikit
merajuk.
*Bersambung
Berhenti Berharap (Part 13)
“Kalo kamu kangen, perbaiki
hubungan kalian.” Jawab gadis itu yang tak lain adalah Rini.
Ia pun dengan terkejutnya hingga
membuatnya menjadi salah tingkah. Bagaimana tidak ia ketahuan benar-benar
merindukan sahabatnya, hatinya tak bisa dibohongi meski mungkin dengan sedikit
kecewa.
“Rini?” tanya ia terkejut dan
melongok ke sekitarnya.
Rini pun mengikuti dirinya,
memalingkan kepalanya menengok ke ka kanan dan ke kiri lalu kemudian
menatapnya.“Cari siapa?”
Ia menggelengkan kepalanya. “Ng …
ng … nggak.” Bicaranya terbata-bata.“Sudah dari kapan kamu disini?”
“Belum lama.” Jawabnya singkat.
“Tapi aku tahu kalo kangen sama Diana.” Lanjutnya.
“Nggak kok.” Ia mengelak.
Rini pun hanya senyum
menyimpulkan, setidaknya gadis itu tidak benar-benar kecewa. Hanya mungkin butuh waktu untuk memulihkan kepercayaannya
kembali, sebab bagaimana juga segala sesuatu yang menyangkut hati, ia tak bisa
disalahkan. “Lus … aku mau ngomong?”
Ia mengangguk, sebenarnya hatinya
sedikit tercekal dan bergetar. Ia takut jika yang di bicarakannya nanti adalah
tentang hubungan dirinya, Diana juga Handy. “Ngomong soal apa, Rin?”
“Ngomong-ngomong dimana Diana?”
matanya melongok memandang sekitarannya pura-pura tak tahu.
“Em … Diana gak ikut.” Terdiam.
“Iyah, di agak ikut ada urusan kampus katanya.” Jawabnya berbohong lalu
kemudian menyeruput minumnya.
Matanya menyipit, “Kamu tidak
sedang berbohong kan?” tanyanya menyudutkan.
“Em, enggak kok.”
“Sudahlah Lusi, kamu tak perlu
berbohong denganku. Aku sudah tahu yang sebenernya.” Jelasnya.
Ia terdiam sejenak. “Maksud kamu apa,
Rin?” ia kembali bertanya dengan nada pelan, berpura-pura tak mengerti.
“Aku tahu tentang apa yang
sebenarnya terjadi, tentang kamu, Diana juga abang Handy.” Jelasnya. “Tapi kamu
perlu tahu, Diana tak seperti apa yang kamu fikirkan. Bahkan mungkin ia adalah
kebalikan dari apa yang kamu fikirkan.”
Ia terperangah. “Bagaimana mungkin Rini bisa menilainya
demikian sementara dia tak pernah tahu perasaanku sebenarnya.” Keluhnya
kesal dalam hati.
“Lus
… percayalah, bahwa dia tak pernah bermaksud seperti ini. Dia memang sayang,
namun untukmu. Dia rela mengorbankan perasaannya …”
Sementara
gadis itu menyelanya, “Sudah Rin, cukup. Aku gak mau denger tentang dia lagi.”
“Setidaknya,
aku tahu bahwa kamu nggak benar-benar percaya akan apa yang sudah terjadi.
Sebab kamu tahu betul dia. Dan cuma satu pintaku, beri dia waktu untuk
memberikan alasannya.” Ia pun berdiri lalu meninggalkan Lusiana seorang diri di
tempat duduknya.
Kini
ia berlalu, sembari memainkan ponselnya yang ia pegang. “Aku harap dengan ini, bisa membantu semuanya lebih baik lagi. Maafin aku
Diana, aku hanya bisa bantu dengan cara ini.” Ujarnya dalam hati. Kemudian,
sesekali dalam langkahnya ia menengok ke arah belakang tempat dimana ia
meninggalkan Lusiana seorang diri. “Semoga
kamu bisa menimbang dan menyadari yang sebenarnya ya.” Lanjutya berkata dalam hati.
Lusiana
pun tampak sedang menimbang-nimbang, sekaligus mengingat-ngigat kesalahannya. “Aku
yang terlalu egois, atau memang ia seorang pengkhianat.” Ia bergumam dalam
hatinya.
Yang
kemudian sesekali membuka ponselnya dan melihat kebersamaan keduanya yang
terangkum dalam sebuah album bernama galeri foto.
Sementara
Rini pergi, ia juga mendapatkan kabar dari temannya di Canada. Betapa senangnya
menerima kabar yang berkata. “Aku kan ke Indonesia dengan segara. Tunggu aku
ya, Rin.” Tertulis dalam pesannya demikian. Ia pun menyunggingakan bibirnya,
tanda senang.
***
“Kakak
mau pulang kapan ka? Ibu sakit.” Suara seoarang anak kecil di penghujung
telefon.
“Sabar
ya, dek. Bentar lagi kakak pulang. Bilang sama ibu, harus tetap semangat ya,
dek.” Jawabnya berusaha memberi ketahanan.
Suara
itu pun tak asing baginya. Gadis itu pun menutup ponselnya dengan sedikit
kekhawatiran. Ia menyeka matanya dari tangisan yang hampir mematahkan semangat
hidupnya.
Ia
berdiri dan bergegas cepat membereskan pakaiannya. Tak lupa ia mengambil
ponselnya untuk meminta izin beberapa minggu ke depan.
“Baik,
saya izinkan.” Jawab pesan balasan salah sau dosen.
Kini
gadis itu, Diana. Segera pergi kesebuah terminal bus, untuk naik angkutan umum ke
arah kampong halamannya di kota Bandung.
Keesokan
harinya, disebuah kelas kampus.
Hari
itu, suasana pagi begitu menyegarkan dengan udara ibu kota yang sedikit segar
dari biasanya karna hujan baru saja membasahi tanah. Sementara sisa-sisa
embunnya, masih menempel manja pada dedaunan juga kaca-kaca rumah. Bersama mimpinya
ia terbangun, menyadarkannya bahwa ia harus pergi tuk kuliah.
Setelah
kemudian berbenah diri, Ia segera melajukan motornya ke arah jalan menuju
kampus. Setelah beberapa menit dalam perjalanan, kini ia telah sampai dan
segera masuk ruang kelasnya. Namun nampaknya, sesuatu ada yang berbeda. Tatkala
ia menyadari, tak ada sapanya yang selalu menyambut harinya.
Gadis
itu pun melirik jam tangannya, yang ia selingi dengan melihat ke arah pintu. Ia
seperti sedang menunggu sesuatu, namun enggan membicarakannya. Gadis itu
menengok kiri-kanan dari tubuhnya. Hingga jam masuk pun tiba.
Disisi
lain, ada Rini yang tengah begitu senang, mendapatkan kabar dari Kak Ester,
juga Kak Julia untuk kunjungannya ke Indonesia, dengan sesuatu yang special ucapnya.
“Aku
kan mengabarimu lagi, ketika nanti kita telah sampai di Bandara Jakarta.” Ucap
Ester di ujung telefonnya.
“Baiklah ka. Kabari aku, kalo sudah sampai. Hati-hati ya
kak.” Jawabnya dengan riang. Kemudian ia pun menutup teleponnya.*Bersambung
Langganan:
Postingan (Atom)
One More
“Dek, dengarkan ini.” Ucapnya. Lalu aku terdiam, tunduk mendengarkan. Bukan terkadang membahas rasa, tapi ia tak pernah berhent...
-
“Saya sadar, saya masih terlalu hijau untuk menikah. Tapi saya lebih sadar, bahwa tanpa menikah, saat ini saya merasa tak kuat mena...
-
Ayah... Tepat hari ini, 2 bulan kepergianmu.. Kepergian yang tidak akan pernah kembali. Kepergian kepada sang Khalik. Aku bukan tak ikh...
-
sumber gambar: kompasiana.com Jemariku menari sedari pagi tadi di atas huruf-huruf tak beraturan yang berada di papan keyboard lapt...