Minggu, 19 November 2017

Berhenti Berharap (Part 4)

Hasil gambar untuk salju
sumber foto: japanesestation.com

Namun ia menyadari, lelaki itu tak kunjung menemuinya  bahkan untuk sekedar bertanya Hi, apa kabar. Bagaimana tidak, janjinya kini tak ditepati, bahkan untuk beberapa bulan terakhir sudah lost contac. Mungkin kini ia hanya menyimpan nomornya sebagai koleksi kontak diponselnya.

Ia selalu menepis segala prasangkanya, dan menganggap bahwa hanya ia yang bersalah. Iyah, ia bersalah karena telah menaruh dan mempercayakan hati kepadanya sementara ia bahkan acuh tak peduli dengan segala perhatiannya.
Ia selalu mengutuk dirinya dengan demikian, sementara lelaki itu bahkan mungkin tak lagi memikirkan tentangnya apalagi tentang janjinya. Kekesalan yang bergumam pada harapan yang menjadi tanda tanya akan sebuah kejelasan.
“Ah sudahlah, ini hanya aku saja terlalu terbawa perasaan” ujar dalam hatinya yang berusaha tuk meyakinkan diri.
Malam itu menjadi salam perpisahan jua salam kerinduan yang mungkin kan bertanggal, meninggalkan Canada adalah kemungkinan yang memang bisa saja terjadi, dan kembali ke tanah air karena alasan kecewa adalah pilihan sekaligus pelarian yang tak pernah ia inginkan terjadi.
Canada dengan waktu singkat yang penuh cerita, kan terangkum dalam sebuah kisah yang mungkin klasik untuk dibagi dan diceritakan terutama mengenai lelaki itu. Sementara, cintanya kan ia biarkan membeku hingga tak ada yang tahu bahwa ia memilih tuk diam dalam mencintainya. Hingga membiarkan takdir yang menggariskan untuk keduanya.
Ia menarik nafasnya pelan, memejamkan matanya, menghirup wangi aroma sakura cherry blossom yang ada di taman itu, menikmatinya seolah-olah baru menemukan keindahan. Sesekali ia sekaligus mengambil belenggunya, yang mengikat dan terpatri beku dalam hati jua dirinya dan membawanya pergi saat ia hembuskan nafasnya. Ia selalu melakukan itu, baginya itu adalah cara pertama merelaksasikan tubuhnya dari masalah.
Selalu ada perasaan ‘plong’ sesaat setelah menghembuskan nafas, iya perasaan semacam ‘lega’ yang tak ia miliki saat sebelum menarik nafasnya. Hati dan jiwanya kini lebih tenang, ia percaya jika pun takdir tak mengizinkannya bertemu kembali di Canada maka ia hadir dilain tempat dengan cara yang lain juga dengan takdir yang berbeda. Namun, tak merubah dirinya tuk kembali ke Canada dengan ataupun tanpa dirinya.
Saat ia kembali membuka matanya, ia menoleh sisi kanan juga sisi kirinya. Iyah, ia masih bersama Ester juga Julia yang masih saja dengan khusu`-nya menikmati aroma malam di High Park. Sudut bibirnya pun mulai menyungging tanda sebuah senyuman. “Aku sayang kalian” ucapnya merangkul Ester juga Julia di kedua sisi tangannya.
“Kita juga sayang kamu Rini” jawab keduanya. “Janji padaku kau akan kembali, dan menjaga dirimu dengan baik-baik.” Lanjut Julia
Ia  hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Rini … apakah kau akan melupakan aku dengan teman baru mu?” tanya Ester dengan sedikit khawatir.
“Kak, kalian jangan khawatir. Setelah selesai kuliahku disana. Aku akan kembali kesini, dan saat musim dingin aku berada disini bersama kalian. Setidaknya cintaku tak pernah mati untuk kota ini.” Jelasnya terang
Ester pun tersenyum dan kembali memeluk Rini.
Rini menengok jam tanganya, “Sudah dini hari, waktunya pulang.” Ajaknya.
Kedua temannya pun mengangguk pertanda setuju.
Akhirnya mereka bangkit dari tempat duduknya, tangannya menggeliat tanda lelah lalu membentangkan dan membiarkannya saling berpegangan satu dengan yang lainnya. Menarik nafasnya dan kembali memejamkan matanya, sembari berdoa untuk tetap bisa bersama seperti itu lalu kemudian menghembuskannya.
Setelah usai, perlahan mereka melangkahkan kaki menuju arah jalan pulang. Saling melontarkan senyum juga tawa, sebuah persahabatan yang sangat manis.
“Besok pulang jam berapa Rin?” tanya Ester
“Jadwal pesawat jam satu sih”
“Sudah prepare?”
“Belum.” Jawab Rini singkat yang dibarengi senyum.
“Mau aku bantu?” Julia menawarkan diri.
Dengan senyumnya ia berkata, “With a pleasure.”
“Baiklah besok pagi aku kan ke rumahmu” jawabnya dengan senyum jua.
Mereka melanjutkan jalannya menyusuri kota, tak terlalu sepi sebab taman sendiri buka dua puluh empat jam, dan suasana juga tak terlalu sepi sebab berada di pusat kota Ontario.
Dengan asyiknya mereka berjalan, memerhatikan setiap sudut kota. Cuaca semakin dirasa dingin, dinginya kini membalut dan semakin menjalar meski telah menggunakan jaket tebal.
Hingga tanpa sadar, mereka telah sampai pada tempat penginapan Rini. Sementara kedua temannya, membelok ke arah kiri tempat penginapannya.

***

          Keesokkan harinya.
          “Rin, ini perlu dibawa?” tanya Julia yang memegang kotak music.
          Ia hanya mengisyaratkannya dengan menunduk.
          “Yang ini pasti bawa kan?” Tanya Ester yang memegang album foto tentang mereka bertiga.
          “So pasti kak.” Jawabnya dengan senyum.
          Lalu melanjutkan kembali mengepak barang-barangnya pada beberapa dus juga tas koper miliknya. Sesekali matanya melirik ponsel yang ia letakkan di atas ranjangnya berharap seseorang yang ia tunggu mengabarinya atau  berusaha mencegahnya untuk tidak pergi.
          ‘Treng, treng, treng …’  ponsel nya berbunyi, dengan segera ia mengambil ponselnya yang dibiarkan tergelatak tadi dan membukanya dengan harapan bahwa itu dari Ian. “Sayang, kamu jadi pulang? Berangkat jam berapa?”  tulis dalam pesannya yang tak lain dari sang Ibunda. Ia menarik panjang nafasnya, menerima kenyataan bahwa bukan pesan dari lelaki yang sedang ditunggunya.


*Bersambung

Sabtu, 18 November 2017

Berhenti Berharap (Part 3)

       Hasil gambar untuk kebun bunga sakura high park
 sumber foto: blog.platechno.com


       Sementara Rini, minikmati malam terakhirnya di Negara orang sebelum akhirnya kembali ke Tanah Air. Berselimutkan dingin juga sepi. Ia berjalan menyusuri kota, bersama kedua temannya, Julia dan Ester. Namun tak saling bicara, bisu tak bersuara.
      Berisyaratkan hati, menata diri yang saling terpikat satu dengan yang lainnya, tak berkode, seperti mereka memahami sebagaimana para perumus kode melafalkannya. Mereka hanya terus melangkahkan kakinya, berpijak dari sudut ke sudut kota yang lainnya, melewati jalan setapak hingga jalan kota yang ramai.
     Jaket tebalhya kini dirasa tak cukup membalut tubuhnya, dinginnya cuaca disana selalu mempunyai cerita yang tak bisa ia tuliskan lewat kata-kata. Ia hanya melipatkan tangannya didadanya, sementara lehernya terbungkus rapih oleh kain syal yang selalu ia pakai dan membiarkan tudung jaketnya menutupi kepalanya. Tak lupa pula ia selalu memakai sepatu boot kala salju menerpa Canada.
       Sementara kedua temannya, dirasa sudah terbiasa dengan cuara Negara sana. Membiarkan kepalanya sedikit diterpa salju, dan dengan sengaja melepas tudung jaketnya. Mereka saling menikmati malam itu, berjalan dan menari-nari dalam salju, memainkan kakinya dalam tumpukan salju. Sesekali saling menggumpalkan salju dan melemparkannya kepada yang lainnya.
      Saat cuaca kota diterpa salju, mereka memilih untuk berjalan kaki saja, sembari menikmati suasana kota. Hingga mereka tiba, pada suatu tempat yang selalu mereka cari. Iya suatu tempat yang selalu memberikan mereka kehangatan dan kebersamaan, suatu tempat dimana ketiganya dipertemukan, sebuah taman yang bernama High Park. Taman yang terbentang mulai dari Bloor Street hingga ke The Queensway, tepat di tepi utara Danau Ontario. Yang selalu mereka nanti adalah atraksi kebun bunga sakura (cherry).
     Satu dari kedua temannya menatap mata sayu Rini dengan penuh harap “Rin …,” panggilnya.
    “Iya” jawabnya mengangkat kepala dari menunduk.
   Matanya mulai berbinar, berkaca-kaca menahan tangis. Lalu sontak menarik tubuhnya dan mendekapkannya kepada tubuh Rini, memeluknya dengan erat yang ditambah dirangkul hangat oleh Ester.
     “Berjanjilah padaku untuk kembali kesini” ucap Julia penuh harap.
    Seketika air matanya tumpah tak tertahan, ia hanya menjawabnya dengan tangis.
     Sementara Etser terus membelai halus dan indah rambutnya. Membiarkan Rini menghabiskan sisa tangisnya, hingga tak ada lagi beban yang harus ditahan.
    Suasana hening. Hanya terdengar isak tangis dari ketiganya. Ester pun mulai melepas rangkulannya, begitu juga dengan Julia yang melepaskan pelukannya. Julia menghapuskan air mata yang masih tersisih di pipi temannya, sedangkan Ester memegang pundaknya memberinya kekuatan.
    “Percayalah sayang, kota ini selalu punya cerita tentang kita. Ia menyimpan tanpa kita pinta, ia juga takkan menghapusnya ketika kita lupa. Tapi kamu …” tersenyum “yang tak terlupa” lanjutnya.
   “Terimakasih Kak Etser.” Memandang Ester dengan senyum haru, dan memandang Julia disisi lainnya “Terimakasih juga buat Ka Julia.” Terdiam sejenak. “Terimakasih sudah mau direpotkan sama Rini beberapa bulan terakhir ini, Rini gak tahu harus ngomong apalagi. Kalian paling the best yang aku punya di Canada. Rini pasti kangen sama kalian, kangen tempat ini dan kangen semuanya.”
“Kita juga pasti kangen sama nakalnya kamu” ujar Ester
“Kakak ….” Jawabnya dengan penuh manja
Tersenyum, “Kau akan kembali kesini lagi kan?” Tanya Julia
Ia hanya mengedipkan mata, mengisyaratkan pertanda Iya.
“Kota ini selalu menunggumu kembali, dan pintu rumahku selalu Welcome buat kamu, Dik”
“Dan kamar kakak pun selalu welcome buat kamu acak-acakin, Dik” ledek jahilnya Ester.
Mereka pun tertawa. ‘Hahaha’.
Menikmati salju di tengah taman kota, sekaligus menjadi salam perpisahan ketiganya. Tak dapat lagi ditutupi, haru pikuk rasa dan suasananya. Ia kemballi terdiam dalam sebuah kursi taman, sedihnya mengingat semua cerita yang sudah terjadi, tak hanya tentang kedua temannya juga dengan seorang lelaki yang cukup memberikannya harapan indah yang meski kini justru hanya tinggalkan cerita yang disebut kenangan.
Ester menoleh, memandang wajah Rini dari sisi samping kanannya “Rin …” panggilnya, “apa Ian tahu bahwa kamu akan kembali ke Indoneisa?” lanjutnya bertanya.
Ia hanya menolehkan wajahnya sebentar kearah Ester dan mengalihkannya kembali kearah depan. “Entahlah Kak, aku tak lagi berhubungan dengan dia.” Jawabnya singkat dengan nada suara yang berubah, yang dipahami kedua temannya.
“Masih marah sama dia?” Tanya Julia dengan hati-hati
Ia hanya menyodongkan telinga kanannya, yang ia pahami dengan lirikan matanya. “Tidak kok Kak, aku tidak marah sama dia. Mungkin hanya aku saja yang terlalu berperasa. Sedangkan dia, dia sudah memainkan peranannya sendiri kok.” Jawabnya mengelak menutupi berat hatinya tanpa kabar dan status kejelasan di antara keduanya. “So, jangan khawatirkan itu kak.”
Sementara kedua temannya hanya mengiyakan petanda ia meyakininya.
“Aku berjanji menemuimu disudut kota, maka berjanjilan menantikan ku kembali dengan setiamu. Jaga dirimu baik-baik, sementara aku pun kan menjagamu dengan baik bersama janjiku.” Gumamnya dalam hati, sebagaimana kalimat yang pernah ia dengar dari mulut manis lelaki itu.
         Bahkan kata-katanya seperti sebuah pengingat yang amat tajam, selalu merusak lamunnya, bahkan selalu terngiang dalam ingatan juga pendengarannya. Yang menghantui sisi pertahanan keyakinannya.



*Bersambung

Kamis, 16 November 2017

Berhenti Berharap (Part 2)

Setibanya di kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan  boneka-boneka teddy bear kesayangannya. Terkadang matanya sedikit ikut terpejam, lalu terbuka kembali dan terpejam kembali. Lelaki itu menghampiri dengan senyumnya yang manis “Sayang, yuk kita makan dulu” katanya mengajak makan. Ia pun begitu tersipu, ternyata lelaki yang terlihat menyebalkan tadi, begitu romantis. “Sayang, yuk kita makan dulu” ajakan lelaki itu kembali mengalihkan lamunnya.
Namun beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar “Sayang, kamu tidur ya … Makan dulu yuk” suara teriak Mamahnya menyadarkan Lusi.
Sontak ia pun terbangun dari tidurnya “Iya Mah, bentar lagi kakak turun” teriaknya di dalam kamar sembari membenarkan ikat rambutnya
“Baiklah, mamah tunggu di meja makan ya”
Ia pun hanya mengiyakan bisik dihatinya, yang kemudian Ia kembali merebahkan badannya. “Ya ampun, aku kira tadi beneren. Sialnya Cuma mimpi.” Gumam dihatinya. Namun ternyata ia terbawa perasaan, ia mulai senyum-senyum sendiri, mengingat kejadian tadi betapa polos dirinya sehingga kena hukuman lelaki nyebelin itu. Iya lelaki yang berkumis tipis, dengan kacamatanya yang pas sekali dipakai. Ia mulai mengingat-ngingat, dan mengeja namanya “Ha … Ha” ucapnya terbata-terbata seolah sedang mengingat keras namanya. “Ha apa yah, kok aku lupa! Eh tapi apaan sih ini, kok malah nginget-nginget cowok nyebelin kek dia gitu” sadarnya kembali menyadarkan. “Pake kebawa mimpi lagi, ah bodo ah” ia pun mulai mengacuhkannya.
Segera ia mengganti bajunya, dan membersihkan muka bantalnya lalu kembali ke ruang makan yang mana Mamahnya telah menunggu lama.

***

          Kampus.

       Ha ri ini, adalah hari pertamanya masuk kuliah setelah tiga hari masa ospek. Hari pertama juga resmi bergelarkan Mahasiswi. Ia menyusuri lorong demi lorong kampus, mencari kelasnya. Membaca dan mengeja nomor kelasnya, matanya seperti tak ingin kalah, melirik ke kanan dan ke kiri, memandang ke semua penjuru ruang kelas.
      Jalannya bak lagu sendu yang mendayu-dayu, bahkan suara langkahnya pun bagaikan musik piano yang bergetarkan lembut. Bukan karena dirinya yang terlalu feminim, namun ia dengan sengaja berjalan pelan sembari mengenal kampus dan mencari ruangannya.
        ‘Bruuuuuuug’ Suara buku terjatuh. “Eh eh maaf” Jawab keduanya kompak.
      Sementara lelaki itu masih fokus memainkan HP-nya tapi kemudian sadar bahwa bukunya yang di bawa telah jatuh. Lelaki itu memungut satu demi satu bukunya yang jatuh karena tertabrak. Sesekali melihat jam tangannya.
       Begitupun dengan Lusiana, ia terlihat seperti kaget dan salah tingkah Karena telah menabrak orang. “Maaf, maaf Kak. Saya nggak sengaja” sembari membantu mengambil dan merapihkan buku yang terjatuh.
     “Oh iya tidak apa-apa, saya juga salah” Jawab lelaki itu yang kemudin ikut jongkok  mengambil bukunya.
         “Loh, kakak kan panitia ospek kemarin?”
       Sementara lelaki itu hanya memandangnya, mencoba mengingat-ngingat dengan siapa ia berbicara. Sambil terus membereskan bukunya. Dalam hatinya bergumam “Kaya gak asing, tapi ya sudahlah” ia menepis.
     “Maaf ya, dan terimakasih sudah membantu membereskan bukunya. Saya duluan ya. Sudah telat.” Ungkapnya tanpa basa-basi.
      “Oh iya ka”
      Lelaki itupun dengan segera berlari ke arah ruangannya dengan sedikit terburu-buru. Sedangkan Lusiana, ia membalikkan tubuhnya ke belakang dan dengan sengaja memandangnya, meliriknya dari kejauhan, melihatnya tetap dengan wibawanya. Hingga ia memperhatikan dimana letak ruang kelasnya.
       “Empat … delapan … dua” ejanya dalam hati.
      Lalu ia kembali membalikan tubuhnya, melanjutkan kembali mencari ruangannya sembari mengingat ruang kelas lelaki itu. Iya seorang lelaki yang entah mengapa selalu mengusik lamunnya akhir-akhir ini. Lelaki yang telah memberinya hukuman semasa ospek, tapi sekaligus lelaki yang menyita hampir perhatiannya. Ia pun kembali mengabaikan, namun senyumnya mengisaratkan telah ada seautu yang terjadi disana.
       “Kakak, tahu ruang ini nggak?” Tanya seorang mahasiswi lain sambil menunjukan nomor ruangannya.
        “Lho, kita seruang. Aku aja lagi nyari” jawab Lusi
      “Huft. Untung ada temennya. Bareng boleh ya Kak” ujar seorang mahasiswi tadi.
     “Tentu dengan senang hati sekali.” Terdiam. “Oh iya, kita belum kenalan” ia memulai mengajaknya berkenalan “Namaku Lusiana Wijaya, bisa panggil aku Lusi” Ia mengulurkan tangannya tanda mengajaka berjabat.
        Mahasiswi itu pun dengan senang hati menerima berjabat tangan dengannya. “Hi Kak, aku Diana Lestari. Bisa panggil aku Dian ataupun Ana” tersenyum
         “Hi Dian, senang bertemu denganmu”
        Mereka pun akhirnya berjalan berdua menyusuri lorong kampus mencari nomor ruangannya. Seoalah seperti kawan yang sudah sangat lama, mereka menikmati obrolannya. Tertawa bersama, seakan-akan kampus itu miliknya, bahkan seolah mereka  bukanlah seorang mahasiswi baru.
        Awal perkenalannya memberikan kesan, sehingga mereka saling menikmatinya dan saling mendukung. Seperti sebuah hubungan mutualisme, yang saling membutuhkan satu samamlainnya. Tak hanya sekedar menjadi teman duduk, juga sekaligus menjadi satu-satunya teman yang dimiliki masing-masing.
       Dengan asyiknya mereka berjalan, hingga tanpa sadar sebenernya ruang kelasnya sudah terlewat. “Empat … sembilan … dua” ejanya sambil melihat papan bertuliskan ruangannya. Lalu matanya membelalak saat dilihat ternyata nomornya telah terlewat.
          ‘Loh kok nomor empat sembilan sembilan” Tanya Diana heran.
        'Hahaha’  mereka pun tertawa bersama sebab menyadarinya bahwa ruangannya telah terlewat.
          “Ternyata terlewat” jawab Lusi. “Kalo gitu kita balik lagi” lanjutnya.
      Lalu akhirnya memreka membalikkan badannya kemabli dan melanjutkan jalannya menuju ruang kelasnya bernomor empat sembilan dua.


***

*Bersambung

Rabu, 15 November 2017

Berhenti Berharap (Part 1)

Hasil gambar untuk berhenti berharap
sumber foto: Google.co.id/veronicamagani

PROLOG


CANADA.
Secarik kertas dan pena berada di atas meja, sementara dia masih berkalut dan berselimut di atas ranjangnya dengan untaian tisu yag tersebar hampir memenuhi tempat sampahnya. Ia terus berada disana dengan sedikiit ketakutan yang mungkin adalah kekhawatiran, sementara dua yang lain hanya sedang berusaha menutupinya, lalu kemudian Ia mengambil secarik kertas itu, dan didekatkan dengan tangannya yang kemudian ia melemparkannya ke tempat sampah.

Dear diary,
Entah harus ku tulis apa untuk menuliskan tentangnya, warnanya memudar seiring berjalannya waktu. Iyah, warna kepercayaanku padamu. kau yang ku temui waktu itu, memberi kesan yang tak mampu ku ubah begitu saja. Kau bahkan memberiku asa mengharapnya penuh rasa. Lalu entah bagaimana dengan kedua temanku.
Seseorang yang tak sengaja ku temui, dibalik layar bernama handphope. Sebuah ponsel dengan nomor yang bertuliskan namamu. Entah sedang ditunjukkan Ilahi atau pun memang keisengan yang tak sengaja.
Berbunga hati, bertamankan riang. Mengenalnya seperti menemukan permainan baru di antara ribuan jebakan. Bak labirin di taman kota. Entah harusku tuliskan apalagi, sebab menggambarkanmu tak mampu ku sebut waktu, tak mampu ku lukis indah parasmu.
Iya kamu, lelaki itu yang ku ceritakan pada tiap pena-pena yang ku tinggalkan di dalam diary. Jika denganmu tinggalkan luka maka ku percaya meninggalkan mu pula takkan menghapus luka itu. Luka yang entah dengan sengaja kau beri, atau memang benar hanya singgah tanpa permisi.
Jika harus ku pilih untuk menyudahi ini, maka biarkan aku pergi dan berlari semampuku. Mengejar asa pada yang lain, sebab sebuah kecewa tak dapat sembuh hanya dengan kata maaf.
*Rini

Lalu ia menggumpalkan kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah. “Mungkin, ini saatnya aku harus kembali ke Indonesia” gumamnya.

Di luar matahari bersinar sangat cerah, seakan tak sanggup menebarkan kehangatan ke setiap penjuru bumi. Karena ribuan kilometer dari situ, di sebuah tempat dengan kehidupan yang  jauh berbeda, di sebuah tempat kecil di pelosok Bandung, terduduk seorang perempuan berkulit cerah di sebuah tempat yang rindang.
Ia memandang hamparan luas dengan altar sunyi, sesekali bernyanyi hingga suaranya mengecil terdengar purau dan mendayu. Terkadang ia hanya diam memilih menikmati sejuk alam, namun di sela rinti hujan, hanya isakan lirih yang terdengar samar keluar dari bibirnya.

“Kau tahu rasanya diabaikan,
Cintaku telah di ujung jalan ….
Aku sangat mengenalmu …
Aku juga cintaimu …
Tapi kau tak pernah, ada pengertian
Ku senang, ku sedih
Kau tak mau tahu …
Aku sangat mengenalmu …
Dulu kau tak begitu …
Kau bintang di hatiku,
Jadilah yang ku mau
Ku senang, ku sedih
Kau ada denganku ….” (-Agnes Monika: Cinta di ujung jalan-)

“Doni, aku gak tahu harus bagaimana untuk mengharapmu kembali, bagiku sudah tak ada lagi harapan kini. Keadaan kita semakin nyata menolakku. Semakin keras dari hari ke hari. Maaf  jika aku harus pergi, sebab menantimu kembali dengan janji yang sama begitu mencengkeram ketakutan pada diriku. Meski demikian aku percaya, masih panjang jalan yang harus ku lalui begitu pun dengan dirimu. Karena itu, aku memutuskan untuk pergi dari sini. Aku ingin mencari sebuah lingkungan yang memberiku kesan, bahwa tanpamu aku kan bahagia. Jadi maaf aku harus meninggalkan kota ini dan juga tentangmu.”
Perempuan itu menangis sesenggukan, sesungguhnya berat hatinya untuk meninggalkan kota Bandung, iyah bukan hanya kenangan bersama lelaki bernama Doni tetapi juga harapan tentang hatinya. Tetapi dia pun harus pergi. Masih panjang jalan yang harus di tempuhnya dari hanya sekedar berharapdia kembali. Akhirnya, setelah beberapa saaat menguatkan diri, Ia bangkit dan mulai meninggalkan tempat itu.

***

Jakarta.

“Mah …”
Teriakan manja mengisi ruang dapur keluarga Wijaya. Mamah Erita mengangkat kepalanya sejenak dan tersenyum melihat putri semata wayangnya, Lusiana. Dimiringkannya kepala ke samping untuk menerima ciuman putrinya.
“Hai sayang, bagaimana hari pertamamu kuliah?”
Lusi menghempaskan tubuh di samping ibunya sambil nyengir puas
“Lumayan menyenangkan Mah! Tapi aku agak kesel mah!”
“Kesel kenapa sayang?” Mengelus pipinya
“Tadi kakak panitianya ngeselin Mah, aku di hukum suruh jalan jongkok gara-gara salah jawab. Kan kaka gatau mah.” Ucapnya manja dan bersandar dibahu mamahnya.
“Gapapa sayang… Emang kamu jawab apa?”
“Tadi aku jawab bebek, ayam pas panitianya Tanya hewan yang di udara”
‘Hahaaha’ Mamahnya tertawa yang kemudian menutup mulutnya dengan jarinya. Adik lelakinya pun yang masih berusia 17 bulan itu pun ikut menertawakannya. “Adikmu saja sampai ketawa” ‘Hahaha’.
“Apa kamu dek, ledekin kakak? Awas kakak cubit nanti loh” Mencubit pelan pipi adiknya.
“Loh, kaka emang gatau?”
“Bukan gak tahu sih Mah, tapi kakak lagi kurang fokus”
“Berarti itu salah kakak”
“Mamah ….” Suaranya meminta pembenaran dengan manja.
“Udah sekarang ganti baju dulu, nanti turun lagi kita makan yaah”
“Okelah kalo begitu Mah”
“Awas ya kamu, adik kakak yang nyebelin” Mencium pipi tembem adiknya dan berlari ke kamarnya.
“Kakakmu gatau mana hewan di darat sama di udara” Sambil menyuapi makanan sikecil.



*Bersambung

Selasa, 14 November 2017

Pernikahan Taqi Malik

Hasil gambar untuk pernikahan taqy


Siapa yang tak kenal dengan seorang hafidz Qur'an, qori muda berusia 20 tahun itu. Yang tergabung dalam The Bros Team, beranggotakan Muzzamil Hasballah, Ibrohim El Haq (Boim) dan terakhir Taqiyuddin Malik (Taqi Malik).

Tiga qori, tiga imam muda yang menarik perhatian. Setelah Muzzamil Hasballah melepas masa lajangnya pada bulan Juli lalu, kini nitizen dibuat patah hati kembali dengan keputusan Taqi Malik menikah diusia muda, 20tahun.

Taqi Malik dikabarkan meminang anak pengacara kondang Sunan Kalijaga, yaitu Salmafina Khoerunnisa (Alma). Dikabarkan pula, bahwa Alma dulu adalah sahabat dari seorang selebgram, Awkarin. Terjebak dalam pergaulan bebas juga gaya hidup yang foya-foya dengan didukung fasilitas yang disediakan sang ayah.

Hal demikian pula menjadi perbincangan yang hangat oleh warganet. Sebab Alma akan dinikahi oleh seorang hafidz muda yang memiliki banyak idola. Namun, sebelum akhirnya dinikahkan Taqi, Alma mulai merubah gaya hidupnya dan memilih hijrah dan menutup auratnya.

Pernikahan itu dilaksanakan di Masjid Ramlie Mustofa, Jakarta dengan mahar surah Ar-Rahmaan. Meski tak sedikit yang menggunjing keputusannya, namun banyak pula yang mendukungnya.

Jika pernikahan Muzammil, mengajarkan kepada kita bahwa lelaki baik untuk wanita baik, maka pernikahan Taqi Malik mengajarkan kepada kita bahwa akan ada lelaki shalih yang mau memimpin kita menuju jalan yang di RidhoiNya.

Senin, 13 November 2017

Lomba Matematika tingkat SMA/K se-Banten dan sekitarnya


Cara belajar matematika yang paling efektif adalah dengan berlatih, berlatih dan berlatih mengerjakan soal matematika. Beratih lah soal sebanyak mungkin yang kita bisa. Sebab hanya dengan cara ini kita sungguh belajar matematika. Matematika bukan sulit, yang menjadikan sulit hanya pemikiran yang sudah tercetak mengatakan sulit. makanya dari pada penasaran sama Matematika, join aja disini LOMBA MATEMATIKA tingkat SMA/K sederajat se-Banten dan sekitarnya. Tidak hanya pengalaman yang didapat, ilmu-ilmu baru yang belum diketahui dibalik matematika pun bisa jadi bikin kamu kamu jatuh cinta lho..

penasaran kan .... ?

Makanya join yuk.. Deadline Pendaftaran tanggal 14 lho..

HIMATIKA UNPAM proudly present : 
๐Ÿ”Š ๐Ÿ’กLOMBA MATEMATIKA SMA/K se-Banten dan sekitarnya ๐Ÿ’ก๐Ÿ”Š

Jago Matematika???
Jangan bilang jago kalo belum ikut 
๐ŸŽ‰๐ŸŽŠ EKSIS  ๐ŸŽŠ๐ŸŽ‰
[Edukatif, Kompetitif, Sportif, Intelektual & Smart] 

Ayooo jangan ketinggalan, catet nih waktunya !!
๐Ÿ—“ 16 November 2017

Syarat :
๐Ÿ“ƒSiswa/i SMA/K Sederajat kelas X s.d XII Se-Banten dan sekitarnya 

Tempat pendaftaran : 
 ๐Ÿข Universitas Pamulang Gd Viktor
 s/d  14 November 2017.
(diperpanjang) 

๐Ÿ’ธpendaftaran 25k /peserta 

Total hadiah ??
๐Ÿ…๐Ÿ’ฐJutaan rupiah ๐Ÿ’ฐ๐Ÿ…

Tunggu apalagi?? 
Daftarkan dirimu segera 
https://goo.gl/forms/sIH88DY2SSXnz0cI3

Info lebih lanjut hubungi:
Ida 0896-5003-6758
Luluk 0858-7153-8538

ODOP dan Cabe Merah

Ini sebuah perjalanan yang terangkum dalam sebuah cerita sederhana bernama perjuangan

ODOP adalah wadah kami mengeksplore pikiran

Dari berbagai latar kami dipertemukan, mencoba merajut kasih dalam sebuah kisah bernama mimpi

ODOP adalah para pejuang literasi masa kini

Parasnya mungkin tak saling mengenal, tapi kami saling kenal hanya dengan sebuah coretan yang melukis dinding blog

Terbagi satu dengan yang lain, tak menyudutkan kami untuk tetap bersama

Wortel, kentang, bawang merah, dan Cabe merah

Ah mungkin terdengar seperti lelucon

Tapi sungguh, itu bukan ...

Hanya sekedar tim-tim berjudulkan sayur

Cabe merah, ia mungkin pedas 

Tapi ku yakini, bahwa pedas tidak akan menyakitimu

Sebab ia memberi dan bersifat saling untuk mengisi

Nasihatnya mungkin terkadang pedas

Tapi yang dihasilkan justru memberi kesan perbaikan diri

Penamu adalah perjuangan diri

Setiap tinta-tinta yang tertulis dalam baris buku diwaktu luang

Tersusun rapih kembali pada layar tak bergaris

Terkirim lalu kemudian dibedah

Satu, dua kesalahan

Menjadi tiga, empat kebaikan

Beberapa waktu melewati hari bersama cabe merah

Melihat dan menjadi saksi yang bergugur

Kadang ada cemas yang berkalut

"Bagaimana jika yang gugur itu aku?" kataku dalam hati

Tapi kuyakini, semampu ku menulis tak ku biarkan malas merajai

Tak mengejar deadline, bukan ku tak serius menggeluti

Sebab bagiku, menulis bukan soal pengejaran tapi kebermanfaatan

Ouh cabe merah .... Terpisahnya kita tak mengurangi rindu yang menohok hati

Tersisakan delapan belas orang, tak mengurangi kisah ini

Meski telah terhapus, kalian adalah Si punya cerita yang bernama kerinduan.

One More

“Dek, dengarkan ini.” Ucapnya. Lalu aku terdiam, tunduk mendengarkan. Bukan terkadang membahas rasa, tapi ia tak pernah berhent...