Kamis, 18 Januari 2018

Rahasia Manusia Terkutuk

Gambar terkait
Sumber gambar: news.lewatmana.com

“Sudahlah, Anne. Kau itu perempuan! Kodrat perempuan itu di rumah,” suara Ibu Niken, meninggi. “tengok kakak mu itu,” ia berisyarat dengan telunjuknya. “biar dia seorang lelaki, dia lebih banyak di rumah. Nggak kaya kamu, hutan, hutan, dan hutan lagi.”

“Sudah biarkan saja, Mah.” Teriak Arnold, dari ruang keluarga. “Biar dia dimakan binatang buas disana.” Jawabnya dengan terkekeh.

“Huuusst … kalo ngomong yang benar.” Ibu Niken mengingatkan.

“Mamah, tenang aja. Ini juga bukan kali pertama, aku ke hutan kok.” Jelas Anne, sementara tangannya berada di bahu sang mamah menandakan isyarat bahwa; kan baik-baik saja.

Sementara sang ayah, ia masih mengecek persiapan senapan pemburuannya. “Anne, kau sudah siap?” tanya sang ayah.

Ia berisyarat dengan jemarinya, menandakan; Oke.

Sang mamah pun hanya  mengangkat bahu, memasrahkan kehendak anak perempuannya.

***

Hutan.

Suasana hening, sejuk namun rimbun dengan pepohonan yang menjulang tinggi, menjadi tempat empuk pelarian binatang-binatang buas. Tempat persembunyian dari pemburuan manusia yang picik. Hutan belantara dengan berbagai jenis binatang.

“Ayah, kali ini kita mau berburu apa?” tanya gadis bermata sipit, dengan rambut sedikit pirang yang diikat, melihatkan kulit lehernya yang mulus dan putih.

“Mmmmm …,” jawabnya seakan-akan menimbang jenis pemburuannya. “ayah dengar kata warga sini, ada binatang buas yang tiba-tiba turun ke hutan ini. Ayah belum tahu pasti, binatang seperti apa.” Jelasnya.

Gadis berbaju orange-coklat itu pun mengangguk.

Tidak hanya ada Anne dan sang ayah, ada beberapa orang yang juga ikut. Ada Paman Ik dengan anaknya Nataulo, Om Rick teman ayah Anne, ada juga Shira teman Anne yang sama-sama suka berburu.

Mereka ber-enam pun menyusuri pedalaman hutan, sebab di tengah-tengah hutan lebih mudah menjumpai binatang-binatang buas itu.

Tetiba suara kayu yang patah, seakan terinjak terdengar tepat dibelakangnya. Bersiap siagalah ke-enam pemburu itu dengan senapannya masing-masing. ‘Doooooooor’ suara senapan Paman Ik menggelarkan hutan, burung-burung beterbangan dari sarangnya. “Uh, hampir saja.” Ucapnya.

“Apakah benar, barusan yang ku lihat itu singa?” tanya Anne, memastikan.

Om Rick menoleh ke arahnya, “benar, Anne. Mungkin ini, yang dimaksud para warga.” Terdiam sejenak. “Karena, baru kali ini dalam sejarah pemburuan kita bertemu dengan singa, di hutan yang tak jauh dari perkampungan warga.” Lanjutnya.

“Itu tandanya, kita harus berhati-hati lagi.” Sambung Ayah Anne.

Sementara disisi lainnya, seseorang terlihat tengah duduk bersandar dibahu pohon yang besar. Bersamanya terlihat darah yang menetes, dari betisnya yang besar.

Anne melihatnya seperti meringis kesakitan. Ia pun meminta izin kepada sang ayah untuk menengoknya memberikan pertolongan.

Dihampirinya seseorang itu, seseorang dengan badan yang kekar juga rambut pirang. Wajahnya terlihat sangat perkasa, senyumnya manis meski sedikit terlihat bengis. “Ada, yang bisa saya bantu?” gadis itu menawarkan diri.

“Betis mu luka, cukup mengeluarkan darah banyak. Kamu harus segera diobati. Kalau tidak, darah yang keluar akan lebih banyak lagi.” Sergah seru Shira, yang menghiraukan jawaban lelaki itu.

Anne mengangguk, memberi pemahaman. “Tenang saja, kami akan membantumu.” Sembari mengeluarkan kotak P3K dari ranselnya.

Segera ia membersihkan luka itu. Sementara sang ayah dan yang lainnya kecuali Shira, lebih dulu melanjutkan perjalanannya.

Lelaki itu pun mengangkat kepalanya, “terimakasih sudah membantu.” Sorot matanya berpapasan dengan sorot mata Anne, yang sipit. Keduanya terjebak dalam tatapan.

“Kau sedang apa di hutan ini, seorang diri?” tanya Shira menyadarkan tatapan keduanya.

Anne pun tersadar, dia clingak-clinguk salah tingkah. “Kakimu sudah selesai diobati.” Sergahnya basa-basi, sembari menundukan kepalanya membereskan kotak P3K miliknya.

Lelaki itu hanya terdiam, menghiraukan pertanyaannya.

“Oya, sepertinya kamu bukan orang sini. Siapa namamu?” ujar Shira.

“Saya, Lian.” Ia menyodorkan tangannya.

Tangan lelaki itu pun dijabat Shira juga Anne.


***

Senja berlalu, berganti malam. Terang temaram rembulan, hingga pelosok hutan. Auman suara-suara  binatang di hutan terdengar, suasana dengan api anggun juga nyaring jangkring dan kodok menjadi irama. Sesekali suara bising nyamuk, berkeliling didekat telinga.

“Lian, sepertinya disana ada santapan yang sangat lezat untuk kita malam ini.” Ujar Cassa, teman Lian.

Akhirnya keduanya pun berusaha mendekat, perlahan namun pasti. Ia urungkan dengkur suaranya. Semakin terlihat yang dipandang itu adalah manusia, matanya menemukan sosok yang dikenalinya.

“Cass …” panggil Lian pelan.

Jalannya pun terhenti, “Lihat Lian, mereka manusia.”

Lian hanya menoleh seujung matanya, ia menundukan kepalanya. “Cass, boleh aku berkata jujur padamu?”

“Ada apa, Lian?” tanya ia heran sedikit termangu.

“Sebenarnya … perempuan yang berada disana …” jawabnya seperti mengeja, “adalah perempuan yang sudah menyembuhkan betisku yang luka tadi, dia sangat baik. Aku tidak sanggup menghabiskan nyawanya.” Ia menunduk.

“Apa?” suaranya meninggi, hingga membangunkan kewaspadaan Anne dan yang lainnya.
“Ku mohon, jangan sakiti dia. Dia manusia yang baik.” Bela Lian.

Namun, Cassa tak menghiraukan. Sebab baginya, jika memang ia baik, mana mungkin ia menyakiti hewan lain dengan cara berburu.

“Lian, apakah kau lupa? Bukankah kita diturunkan Raja, untuk membantu binatang-binatang hidup pada habitatnya. Apakah kau juga lupa, kita ini adalah kutukan atas kepicikan yang pernah kita lakukan. Tak inginkah kau sudahi ini?” Cassa kembali mengingatkan dengan janji-janji dan peraturan yang diberikan sang Raja hutan.

Lian hanya terdiam, bagaimanapun ia masih mengingat  semuanya.

“Lian … kita terkutuk bertahun-tahun menjadi seorang manusia singa, itu karena apa? Karena apa, Lian?” suara Cassa meninggi. “Karena kepicikan kita sebagai manusia, yang berburu tanpa rasa tanggungjawab. Membantai hutan, tanpa pernah kita tahu bagaimana lingkungan habitat asli para hewan. Kau tak lupa, itu kan?”

Lian kembali membela Anne, dan teman-teman pemburuannya. Hatinya bimbang, dirasanya apa yang dikatakan Cassa adalah kebenaran. Namun, disisi lainnya, ia tidak bisa menghabiskan nyawa gadis berambut pirang yang telah membantunya, sesuatu dalam hatinya berdebar. Bagaimanpun, nalurinya masih manusia yang berperasa.

“Tapi, Cassa … aku tidak bisa.” Ia memandang Anne, dari kejauhan.

“Lian, apakah kau mencintai gadis itu?” ditatapnya mata Lian, dengan tajam.

“Iya, Cassa.”

“Lian! Apakah kau tidak berkaca. Kau itu manusia singa, dan dia manusia seutuhnya. Kau tidak bisa bersatu.” Cassa kembali mengingatkan, nadanya getir dan meninggi.

“Kenapa, Cassa?” kali ini, ia membantah. “Kau lupa, aku juga bernaluri manusia meski tubuhku dapat berwujud singa. Wajar kalau aku merasakan ini, dan kamu tidak bisa melarangku untuk hal ini.” Jelasnya.

Akhirnya kedua sahabat, manusia singa itu berdebat. “Karena, aku juga mencintaimu, Lian.” Jelas Cassa, yang akhirnya mengungkapkan perasaannya.

Lian terdiam, mencoba mencerna perkataan terakhir temannnya. Saat diam itu, Cassa yang memuncak emosi, perlahan mendekati api anggun yang terdapat Anne dan beberapa orang lainnya. Ditikamnya gadis itu dari belakang, dicabiknya dengan taringnya begitu ganas.

Suara teriak nan kaget itu pun menyadarkan Lian dari ketermangu dirinya. Namun, ayah Anne tak berdiam diri. Diraihnya senapan yang berada disampinya itu, di tembakannya tepat pada perutnya. Dibantunya oleh Om Rick, juga Paman Ik.

Darah kini, keluar dari tubuh singa betina itu, tubuhnya mulai lemas kehabisan darah. Sementara tubuh Anne pun, luka parah meski kondisinya sangat kritis.

Lian hanya mampu memandang, tak bisa melakukan apa-apa. Jika ia menemuinya menjadi seekor singa, maka nyawanya pun menjadi ancaman. Namun jika ia menghampirinya dengan berwujud manusia, pasti mereka akan menanyakan dari mana keberadaan Lian. Sementara Cassa, disana masih terkulai meski nadinya masih berdenyut.

Kini Lian, ditampa rasa gelisah, jua bimbang. Sebab keduanya adalah wanita-wanita  berarti dalam  hidupnya, yang tak  bisa ia memilih menyelamatkan satu dari keduanya. Kali ini, dia benar-benar hanya terdiam, menjauh dari kejadian yang ia lihat. Meski hatinya mulai terasa hampa.


#Days8
#30DWC
#OneDayOnePost

Rabu, 17 Januari 2018

Cinta Yang Terbagi

Hasil gambar untuk cinta yang terbagi
sumber gambar: kompasiana.com

Jemariku menari sedari pagi tadi di atas huruf-huruf tak beraturan yang berada di papan keyboard laptopku. Bunyi ketikan begitu nyaring dan ramainya mengalun, menyibak rasa bosanku karena mendung pagi hari.

Ku tulis sebuah kisah tentang aku jua dirimu yang ku genggam dalam khayal. Aku takut terlalu jauh mengagumimu, sebab takdir akan mimpi lama itu, kini tiada lagi abu. Mungkin salahku membersamaimu dalam doa-doaku itu, atau justru ini hanya tentang seberapa mampu ku menjaganya.

Aku kehilangan kata menyairkan kalimat, bait-bait yang sedari tadi ku olah mendadak rancu berantakan. Namun kembali ku buka ponselku, mengintip nasihat lamamu yang sengaja ku simpan, "paksakan pegang keyboard dan menulislah." Baiklah, aku tulis dan mulai kembali memfokuskan diriku di depan layar.

Kamu selalu bilang, "jika tak ada inspirasi, cobalah tengok langit sebentar saja. Apa yang kamu lihat, coba kamu katakan." Dan itu selalu menjadi pengingat untukku. Jika harus ku katakan tentang dirimu, hatiku berdebar tak tentu rasa. Inginku hentikan saja sandiwara ini, sungguh aku tiada sanggup memilih.

Tujuh pesan nasihatmu terpampang rapih di note ponselku, yang takkan ku ceritakan dengan yang lain. Betapa aku menghargai segala usaha dan motivasimu, meski beberapa lalu, ku terlukai sebab sesuatu memberiku harapan semu akan dirimu. 

Tapi sudahlah, perasaan ini terlalu seram bila ku ungkap nyatanya. Biar ku memilih diam mengagumimu, tanpa seseorang perlu tahu tentang bagaimana menjaga hati yang terbagi. Namun lebih seram, saat ku posting tulisan ini, mendadak kuota 6GB ku hilang. Mungkinkah ada tuyul diponsel?? Araaagh, entahlah. beruntungnya wifi kantor nyala. Hahaha.



#Days7
#30DWC
#OneDayOnePost

Selasa, 16 Januari 2018

Lirih Hujan



Langit gelap, sembunyikan sinar mentari. Atau mentari yang enggan menampakkannya? Entah, aku tak ingin mencari tahu.

Surau-surau di tempatku, mulai mematikan lampu pijar sepanjang lorong. Bukan membiarkannya menjadi tambah gelap, hanya saja menghemat daya listrik. Tak sekedar itu, sebenarnya hanya karena suasana.

Dingin peluh memeluk lirih, membekas imaji ciptakan ilustrasi. Pori-pori meronta memanggil hangat, sementara detik waktunya menyita luruh energi.

Detik jam dinding terdengar, seakan memberi tahu bahwa ia telah pukul enam. Namun, aku masih bersenggama dengan ranjangku, berpeluk mesra dengan selimut kesayanganku. 

Masih, dingin sedari senja menyebar seperti virus. Singgahkan energi tuk menyambut hari baru. Namun nyatanya, seperti desir di padang tandus.

Masih, ku sembunyikan wajahku dibalik selimut. Saat tangan lembutmu meraba halus, punggungku. Saat lentik jemarimu, mulai menggelitik ketiakku. "Bangun!" Ujarmu berbisik ditelingaku.

Tapi ku hanya diam, pura-pura tertidur. Ku tahan senyum untuk mencari perhatianmu. Dan kembali, jemarimu mengusili diriku. Mengganggu hibernasiku. "Bangun!" Kamu ucapkan kembali kata-kata yang sama, kali ini bersama kaki yang mulai menopang dikaki ku.

Aku menggerutu, "aku kan bangun, berat badanmu sungguh berat." Namun, ia hanya mendengar lirih, "seperti orang kesurupan." Jawabnya. Aku pun tersenyum, kupaksakan mataku terbuka melihat keusilannya.

Ku buka pelan selimut yang sedari tadi menutupi wajahku, dan kutemukan wajahnya menatapku dibalik selimut. Aku tersipu dipandangnya, kutarik hidungnya yang sebenarnya tidak mancung itu. "Anggaplah itu hukuman karena sudah mengusiliku." Jawabku manja.

Ia pun tidak terima dengan ulahku, ditariknya selimutku. Ia mencoba meroleh pinggangku, untuk mulai menggelitikan tangannya. "Dede mah dendam pokoknya, habis ante yeyen ama dede." Ujarnya.

Sementara aku, aku dibuatnya tertawa karna rasa geli yang ia buat di pinggangku. "Ah dasar, ponakan nakal!" kataku kemudian. Hahaha


#Days6
#30DWC
#OneDayOnePost

Senin, 15 Januari 2018

Dongeng Untuk Bobi

Hasil gambar untuk KARTUN ANJING
Sumber gambar: google.co.id/PSD

Dokter keluar dengan secarik kertas, memanggil Bunda Emmi juga Pak Wawan, suaminya. Dipanggilnya, dan diajaknya masuk kembali ke dalam ruangan. Dibacakannya isi kertas itu, kertas yang berisi hasil labolatorium anak bungsunya.

Detik demi detik, semakin menyudutkan rasa risau dalam hati keduanya. Khawatir, jua pilu melanda hati, merontak diri  lumpuhkan nyali. Bergetar tak terkendali, hilang bak dicuri.

Kini, hal itu benar-benar terjadi. Sesuatu telah terjadi, sesuatu telah menghujam diri. Saat dokter mengatakan, "anak bapak sama ibu, terkena penyakit kanker otak. Yang kini sudah menjalar luas pada tubuhnya."

'Boooooooom' seperti meriam yang jatuh tepat sasaran. Sesuatu yang ditakutkan itu kini benar-benar terjadi, tangisnya kini tak lagi mampu tuk terbendung, apalagi matanya yang tak sanggup memandang wajah sayu, pucat yang kini terbaring lemah diatas ranjang, dengan beberapa kabel tertempel ditubuhnya yang kecil.

***

"Bunda ..." panggil lemah Bobi diatas ranjangnya. "dokter bilang apa?" Tanyanya seperti menghujam, menggetarkan hati sang bunda.

"Kamu nggak apa-apa kok sayang, kamu banyak istirahat aja ya, biar cepet sembuh." Jawabnya menyembunyikan tangis.
Bobi hanya terdiam, ditatapnya wajah orangtuanya juga Bibo, sang kakak.
"Bunda ..." Panggilnya kembali.
Sang bunda menoleh dengan menyembunyikan sendunya. "Iya, sayang." Jawabnya tersenyum.
"Aku mau mati ya, Bunda?" Tanyanya dengan polos.
"Hussssst, ade gak boleh ngomong kaya gitu. Bentar lagi ade sehat, bentar lagi ade pulang. Emang Bobi, gak kangen sama kakak?" Jawab Bibo, berusaha menepis nyatanya.
"Bunda, Ayah ..." Sergah Bobi. "Kok kalian gak jawab pertanyaan Bobi?"

Sang bunda yang sedari tadi menahan tangis pun, tak kuasa untuk terus menahannya. Ia berlari keluar, meninggalkan Bobi yang sedari tadi bertanya seolah sedang menginterogasinya. Air matanya terjatuh dipipinya yang tirus, bendungan-bendungan binar yang menggembung, tumpah tak tinggalkan sisa. Diikutinya langkah oleh sang suami, yang berusaha menenangkan sang istri.

***

Awan seakan menghitam. Tak kuasa orangtua Bobi menerima kenyataan yang tengah melanda anak bungsunya. Tubuh Bobi semakin terlihat tak berdaya, seperti tak ada lagi tulang yang menyangga. Lengannya lemah, tak mampu lagi untuk menggenggam. Tulang-tulang leher semakin terlihat jelas, karena berat tubuhnya yang turun drastis. Namun, wajahnya masih simpulkan keriangan. Senyumnya tak pernah luntur, ia masih terlihat manis meski wajahnya memucat menguning.

"Kak Bibo, boleh aku meminta sesuatu?" Pintanya dengan nada suara yang sangat lemah
"Iya, tentu sayang," jawabnya tersenyum, "kamu mau apa?" Lanjutnya.
Kemudian ia menoleh kearah sang bunda, hatinya berisyarat. Sang bunda pun tersenyum dan mengangguk.

"Aku mau kakak dongengin aku." Pintanya sederhana dengan tetap menyulas senyum.
"Dongeng yang biasa bunda baca sebelum aku tidur." Jawabnya kemudian.
Ditatapnya sorot mata sang bunda, yang menyimpan kelemahan akan keadaan dirinya.
Bibo pun mengangguk, mengiyakan.

"Suatu hari, ada lima anak anjing yang sedang menunggu sang majikan." Bibo mulai bercerita sembari menatap mata adiknya yang terkapar lemah tak berdaya.
Sementara tangan Bobi, menggenggam erat jemari sang Bunda seakan tak ingin terlepas.
"Anjing-anjing itu menunggu kehadiran ..." Suaranya terhenti, ia menatap mata Bobi yang dilihatnya seperti hanya tatapan kosong.
Bobi hanya mengedipkan matanya pelan  seolah berisyarat, "aku baik, Kak. Lanjutkan."
Bibo pun kembali mengarahkan matanya kepada sang bunda dan ayah. Lalu melanjutkan dongengnya.

"Menunggu kehadiran majikan yang membawa ..." 
Tiba-tiba genggaman tangannya terlepas, "Bobi, Bobi ..." potong sang bunda dengan nada suara yang kaget, tangisnya meyeruak bersama teriaknya.
"Bobi ....." tangisnya buncah.
Bibo pun terhenti, dipeluknya adik satu-satunya.

Sementara sang ayah, memanggil-manggil dokter. Beberapa menit kemudian dokter datang, memeriksa kondisi Bobi. Numun, takdir berkata lain. Bobi telah tiada, kini ia benar-benar tak lagi merasakan sakit dan nyerinya. Dongeng liima anjing, sebagai pengantar tidurnya menuju keabadian.

Selesai.


#Days5
#30DWC
#OneDayOnePost

Minggu, 14 Januari 2018

Alea : Denting Waktu (Part 4)

Hasil gambar untuk denting waktu
Sumber gambar: https://starstory94.wordpress.com

Aku hanya pergi tuk sementara,
Bukan tuk meninggalkanmu selamanya
Aku pasti kan kembali pada dirimu,
Tapi kau jangan nakal,
Aku pasti kembali ... (Pasto, Aku Pasti kembali)

Alunan nyanyian mendayu menghening cipta, suguhkan suasana hangat akan kerinduan hadirnya. Melontang hasrat, melintang harap. Jiwa yang termangu pada nyata yang hampir pupus.

"Ah, tetiba kangen dia?" sadarnya pulihkan lamunan. "Empat tahun lalu, saat perkenalan itu, Julio. Aku masih disini berharap kamu datang lagi, tapi rasanya itu gak mungkin." Terbesit dihatinya akan lelaki yang pernah memberinya harap menanti.

Sesak terasa penuhi dada, gadis itu kembali termenung pecahkan derita. Hanya ia ingin, membebaskan hatinya dari keterbelenggu harap akan hadirnya. "Julio, aku tidak bisa terus berharap padamu. Sementara kini, Kak Peu selalu ada." Desahnya, menggerutu hati.

***

"Alea, handphonemu bunyi." April mengingatkan.
Namun Alea, masih terdiam.
April meliriknya, "Lea ..." panggilnya.
"Eh, iya. Kenapa, Pril?" tanya Alea gelagapan.
"Tuh daritadi handphonemu bunyi," April mengisyaratkan dengan bibirnya yang sedikit dimonyongkan.

Mimik diwajahnya menyemburat tawa, terlihat dari tertariknya ujung bibirnya yang manis. Matanya yang simpankan keraguan, kini halaukan kenyataan.

"Hi, apa kabar?" pertanyaan sederhana terpampang jelas dipesan ponselnya. Pertanyaan yang mungkin dinantinya setiap hari, meski kini rasanya tak lagi sama.

"Aku, baik." Jawab Alea singkat. Ia merasa sesuatu menjadi asing, kala jumpa terakhir hampir empat tahun itu, menyisakan keterasingan di antara keduanya.

Meski tak lagi menggebu seperti harapnya. Hanya saja, Alea menjadi biasa tiada kabar tentang dan darinya, meski masih tak menutup kemungkinan akan harapnya yang mungkin kan kembali.

Masih, ia mengingat pesan yang tersimpan, dalam lagu Pasto yang sempat terekam. Meski, ia menyibaknya dari harap yang mungkin berlebih. Sebab kini, hatinya temukan kenyamanan kala jumpa dengan Kak Peuchan, lelaki yang belum lama dikenalinya.

"Cie, Alea. Pasti Kak pisang, tuh." Sergah April mengira.
Alea tersenyum, "ah bukan, sok tau kamu."
"Bukan?" mimiknya kaget jua heran. "Lalu, siapa?"
Alea memandang April dalam-dalam. Ia tersenyum. Dalam hatinya senang, juga hambar bercampur seperti aroma kopi yang baru saja dituang.

Dadanya bergemuruh, berkecamuk tentukan pilihan. "Mengapa hadir kembali, saat aku telah pulihkan harap akan hadirmu, Julio?" hatinya mulai bergumam, bukan tak ingin lagi mendapatkan kabarnya. Hanya saja, hatinya menjadi kelu sebab harap akan hadirnya, pernah ia tepis dengan hadirnya Peuchan.

Ia menolehkan pandangannya kearah jendela, menujukan matanya kearah tepat diluar. "Jangan tawarkan aku dua pilihan, yang tidak bisa aku memilihnya." hatinya bertekan demikian. Sebab ia terobsesi akan janji harap yang pernah diberi Julio, sementara ia pun merindunya. Namun disisi lain, ia menyimpan rasa lebih pada Peuchan.

"Ku mohon, hentikan harap ini tanpa pernah merasa sakit." hatinya kembali menggeliat mencari kebenaran. Sementara sadarnya, masih termangu menatap ke arah jendela yang kini mulai berkabut akibat rinai hujan yang menghujam turun.



#Days4
#30DWC
#OneDayOnePost

Sekelumit Cerita di Hari Sabtu

Hasil gambar untuk pelaminan

Sebuah pertanyaan yang kembali menyudutkan emosiku, dari harap sebuah penantian di ujung senja. Eits tapi tidak, senja hanya putaran waktu tuk menemui gelapnya malam.

Sudut-sudut ruang itu, masih bergelantung harap yang entah bagaimana nasibnya. Terlukis tak pasti, jua tak tau diri. Namun, ia masih simpankan memori berkasih yang sempat menghampiri.

Nyali yang terpupuk menggebu asa, ciptakan nyata. Tapi, menjadi semu silaukan cerita. Bukan, bukan ia penyebab rasa yang menjadi tawar. Hanya saja, tak mampu ku katakan, nyaliku telah terdampar.

Aku tersudut, pertanyaan yang selalu saja menyudutkan bahagiaku. Tiga kata yang simpulkan luka. Ah rasanya ingin kusembunyi, dari harap senja baru yang terlampaui.

Biarkanlah hati berdamai pada diri, bahwa cerita tak pernah henti. Biarkanlah rindu yang hadir menghampiri, bahwa ia sempat terpatri. Kesal? Ah tidak, aku hanya ingin menikmatinya tanpa menuntut waktu.

Jadi, kapan, kamu nikah?




#Days3
#30DWC
#OneDayOnePost

Jumat, 12 Januari 2018

Pribadi Yang Bermanfaat

Hasil gambar untuk pribadi yang manfaat untuk orang lain


“Jadilah pribadi yang bermanfaat untuk orang lain.”


Nasihat terakhir yang saya dengar dari bibirnya yang kini terkatup rapat oleh keabadian. Nasihat yang mungkin terdengar sederhana, namun tersimpan amanah yang mungkin berat untuk dilakukan.

Terlebih jika kita melakukannya tidak dengan hati, bukankah hati akan sampai kepada hati?

Menjadi bermanfaat untuk orang lain??

Mungkin terbesit dalam hati kita pertanyaan-pertanyaan; seperti apa? Bagaimana bisa menjadi manfaat untuk orang lain, untuk diri sendiri saja masih tidak adil? Bagaimana memulainya? Dan yang lebih parahnya, tunggu nanti saja kalau ada rezeki lebih?

Betapa kata-kata itu terucap biasa, tapi ketahuilah bahwa kita telah mendustakan janjiNya. Bukankah yang memberi rezeki itu Allah? Bukankah yang mencukupkan kehidupan itu juga Allah? Kita hanya diminta untuk berusaha. Allah berfiman: “Hai manusia, ingatkah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?’’ (QS. 35:3)

Menjadi bermanfaat untuk orang lain, tidak melulu harus dengan nominal uang. Apalagi menunggu menjadi pahlawan, baru hati bergerak, bukankah kematian tidak memandang status. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani: “Dari Ibnu Umar, Nabi S.A.W bersabda; Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia.”

So, menjadi bermafaat untuk orang lain tidak perlu menunggu menjadi hebat terlebih dahulu, kita bisa memulainya dari membuat orang lain tersenyum, mengenyangkan yang lapar, mengangkat kesulitan orang yang kesusahan, sungguh ini keutamaan yang lebih baik dari melakukan ibadah i`tikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh. Dalam syair abunawas berkata; “Apapun yang kita punya berikan, walaupun hanya sekedar senyuman.”

Maka, yang ditetapkan adalah kemauan diri untuk memulai. “Hal jazaa`ul ihsaani illal ihsaan, bahwa tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)”. Jika apa yang kita lakukan justru mendapatkan cibir, maka jangan lantas berhenti untuk terus menebar kebaikan, jika tidak didunia, maka Allah beri kebaikan di alam akhirat. Bukankah itu yang lebih mulia?

Yang terpenting dilakukan atas dua hal dasar, yaitu: Ikhlas dan Sabar. Sebab ikhlas, akan menumbuhkan cinta baru untuk tetep teguh berada di jalanNya. Bukankah lelah karena tidak Lillah? Maka meluruskan niat karena Lillah, menjadi dasar utama dikuatkan hati. Juga sabar, sebab ikhlas dan sabar adalah dua hal yang berdampingan dalam meneguhkan jalanNya.

Semoga tetap diteguhkan dalam menebar kebaikan. Aamiin.


#Days2
#30DWC
#OneDayOnePost

One More

“Dek, dengarkan ini.” Ucapnya. Lalu aku terdiam, tunduk mendengarkan. Bukan terkadang membahas rasa, tapi ia tak pernah berhent...