Jangan melihat kebelakang untuk mencaci kenangan. Berjalanlah dan lakukan yang terbaik saat ini.
Sabtu, 17 Februari 2018
Ruang Hampa
Sebuah ilusi menyamai makna
Menyilau sunyi mata tak berkaca
Tonggak diri yang tak henti
Secerca harap yang tak pasti
Emosi melanggang senja
Ketika datang sang permata
Bulir hampa tak berkata
Terdiam senyap pada singgasana
Rona pipi semburat sendu
Menarik hati, memikat suri
Menjelma diri.
Bilasaja diri kutemui
Masihkah sepi meraja?
Atau senyap tak berarti
Dari rasa yang hampa.
Tangerang Selatan, 17 Februari 2018
Masih tentang rindu tak bertepi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
One More
“Dek, dengarkan ini.” Ucapnya. Lalu aku terdiam, tunduk mendengarkan. Bukan terkadang membahas rasa, tapi ia tak pernah berhent...
-
“Saya sadar, saya masih terlalu hijau untuk menikah. Tapi saya lebih sadar, bahwa tanpa menikah, saat ini saya merasa tak kuat mena...
-
Sumber Gambar : Gramedia.com “MAN JADDA WA JADDA, siapa yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil.” Tagline yang tak asing lag...
-
Sumber gambar: google.co.id/percikan iman online Kifa pun mulai meredakan suara tangisnya. Sambil terbata, ia memulai cerita. “Mas ...

Tangsel euy deket nih sama sertim 😁
BalasHapusSertim apaa?
HapusKuy kopdar hahaha
Suai rasa hati saat ini T_T
BalasHapusHampa knapa ka isna?
HapusRindu ya.. bagus puisinya 👍👍
BalasHapusIya rindu sangat wkwkwK
HapusTrimakasih mba haw :)
puisi itu berat ya, sy gak pernah pede posting puisi
BalasHapusGak pede aja, udah keren kang. Aplagi kalo pede, buktinya kmarin menang pas meet up brg kapad hihi
Hapusmet malam mbak, puisinya bagus.
BalasHapustambahin lagi donk tulisannya dan widget nya :D
Malam juga mas fajar. Trimaksih, tpi jgn pjg" lah, aku pushing hahaha
Hapuswah kece puisinya kak
BalasHapusOrangnya gak kece ya? hahaha
Hapus